Share

92. Bagaimana Ini?

Author: Leva Lorich
last update Last Updated: 2026-02-22 09:31:30

"Ma-maaf Bu Cindy, saya nggak berani. Saya ini cuma pelayan di rumah Bu Sisil, melakukan hal seperti itu rasanya nggak sesuai jobdesk saya," tolak Pram dengan gelengan kepala cepat, meskipun jantungnya berdegup kencang hingga terasa ke pangkal tenggorokan.

Cindy memajukan tubuhnya lebih dekat, aroma wangi dari sela-sela pakaiannya semakin menyengat.

Ia menyentuh kerah kemeja Pram dengan ujung jarinya yang lentik, memberikan tatapan yang jauh lebih lembut daripada saat di salon kecantikan sebel
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pelayan Gagah Milik Nyonya Majikan   132. Kerja Rodi

    "Aku nggak mau tahu alasannya. Kamu nggak usah membela diri lagi! Pokoknya, Mas Pram, hari ini bener-bener nyebelin!" ketus Sisil sambil menghentakkan kakinya ke lantai teras.Sisil langsung berdiri dengan gerakan sewot, mengabaikan wajah Pram yang melongo dan serba salah. Ia melangkah masuk ke dalam rumah tanpa menoleh sedikit pun, meninggalkan Pram yang mematung dengan perasaan campur aduk. Pram hanya bisa terdiam tertunduk di teras, meratapi nasibnya yang mendadak berubah drastis dari pahlawan kemenangan sidang menjadi musuh bersama dalam hitungan jam.Dengan langkah gontai, Pram kembali ke rumah kecilnya. Kepalanya terasa mau pecah. Ia sangat kalut memikirkan bagaimana empat wanita cantik yakni Sisil, Dara, Intan, dan Bunga, yang selama ini sangat memanjakan dan menyayanginya, kini berbalik membenci dan memusuhinya hanya karena insiden di restoran tadi. Pram menghempaskan tubuhnya ke ranjang. Tangannya berulang kali memijat kening.Ia akhirnya meraih ponsel di saku celana. Jem

  • Pelayan Gagah Milik Nyonya Majikan   131. Sang Terdakwa

    "Sarah ini teman saya, Bu Sisil. Sama-sama pelayan juga cuma beda tempatnya," jawab Pram berusaha setenang mungkin, meski ia bisa merasakan hawa dingin yang menusuk dari tatapan empat wanita di depannya.Sarah yang merasa suasana menjadi sangat tidak nyaman segera menundukkan kepalanya. Ia bisa merasakan tatapan penuh intimidasi dari Sisil dan ketiga putri angkatnya yang menatapnya seperti singa yang siap menerkam. Sarah segera mencatat pesanan makanan mereka dengan tangan sedikit gemetar, lalu buru-buru pamit ke dapur untuk menyerahkan pesanan tersebut.Setelah Sarah pergi, suasana di meja makan itu mendadak canggung dan tidak nyaman.Tiba-tiba ponsel Pram yang berada di saku celananya tiba-tiba bergetar. Ia merogohnya dan melihat sebuah pesan masuk dari Intan yang duduk tepat di hadapannya.“Oh, udah punya cewek cakep ya sekarang? Pantesan belakangan ini kayak nggak pernah mau lagi kalau aku ajakin berduaan. Ternyata seleramu yang pakai seragam ketat begitu ya, Mas?” tulis Intan d

  • Pelayan Gagah Milik Nyonya Majikan   130. Rasa Cemburu

    "Dengerin baik-baik, Pak Rekan. Aku nggak suka ngulang perintah dua kali. Pertama, besok pagi kamu harus pastiin Bu Sisil menang telak tanpa kendala sedikit pun," ucap Pram dengan nada rendah, sambil tetap menekan pundak Pak Rekan yang masih meringkuk di aspal dingin.Pak Rekan mengangguk cepat, wajahnya masih pucat pasi menahan perih di ulu hatinya. "I-iya, Mas Pram. Saya lakuin apa aja, tolong hapus rekamannya..."Pram mendengus sinis, matanya berkilat di bawah lampu belakang gedung karaoke yang remang. "Perintah kedua, kamu harus rahasiain pertemuan kita malam ini dari Pak Mugi. Jangan sampai ada satu kata pun bocor ke dia kalau aku sudah tahu rencana busuk kalian,” ujarnya sangat tegas.“Dan ketiga, setelah semua rangkaian sidang ini selesai, jangan pernah kamu coba-coba cari celah buat nyerang atau ngerugiin Bu Sisil lagi. Rekaman di ponsel ini adalah kartu truf-ku. Sekali aku denger kamu macem-macem, karirmu sebagai pengacara bakal jadi sejarah!""Saya janji, Mas! Saya setuju se

  • Pelayan Gagah Milik Nyonya Majikan   129. Sampah Pendendam

    "Beres, Mas. Makasih banyak ya bantuannya," ucap Pram sambil menyerahkan kembali seragam pelayan yang sedikit bau asap rokok itu kepada staf karaoke. Ia menambahkan beberapa lembar uang merah ke dalam genggaman si karyawan sebagai tanda terima kasih, yang langsung diterima dengan senyum lebar.“Ini buat tambah beli cilok, Mas. Makasih banyak ya,” ucap Pram ramah.Staf itu mengangguk hormat. “Terima kasih banyak, Pak. Semoga urusannya lancar jaya,” jawab staf itu mendoakan dengan senang hati.Pram segera melangkah keluar gedung, namun ia tidak langsung pergi. Ia memilih tempat yang gelap di sudut area parkir, menyelinap di antara sela mobil-mobil mewah yang berderet. Matanya yang tajam bak senapan runduk terus mengawasi pintu keluar gedung karaoke.Sekitar dua puluh menit menunggu, dua sosok yang dicarinya akhirnya muncul. Pak Rekan dan Mugi keluar dengan langkah yang sedikit sempoyongan karena pengaruh alkohol yang mereka tenggak.Pak Rekan dengan sok akrab memapah Mugi menuju mob

  • Pelayan Gagah Milik Nyonya Majikan   128. Teman Lama

    Pram segera berlari mengejar tiga putri Sisil yang sudah berada di area parkir."Kalian duluan aja naik mobil. Aku tadi kebetulan lihat ada temen lamaku kerja di sini. Aku mau ngobrol dulu sama dia. Nanti aku nyusul pulang naik ojek online aja," ucap Pram sambil memberikan kunci mobil kembali ke tangan Dara dengan gerak-gerik yang dibuat senatural mungkin.Dara sempat mengernyitkan dahi, namun karena ia masih dalam suasana hati yang baik setelah berkaraoke, ia hanya mengangguk. "Ya udah kalau gitu. Jangan kemaleman pulangnya ya, Mas Pram. Besok kan harus antar Ibu pagi-pagi ke pengadilan."Begitu ketiga putri Sisil itu hilang dari pandangan, raut wajah Pram seketika berubah menjadi sangat serius. Ia segera melangkah menuju lorong belakang tempat staf karaoke berkantor. Dengan kemampuan negosiasinya, ia menyuap para staf dengan beberapa lembar uang merah agar diizinkan meminjam seragam pelayan untuk sementara waktu.Di ruang ganti yang sempit, Pram mulai beraksi. Ia meminjam pensil a

  • Pelayan Gagah Milik Nyonya Majikan   127. Aku Padamu

    "Aduh, ya udah deh, aku nyerah. Tapi jangan diketawain ya kalau telinga kalian mendadak sakit," ucap Pram sambil menerima mikrofon dari tangan Intan dengan berat hati.Bunga segera beranjak dari sofa, mendekati layar sentuh pemilih lagu dengan gerakan anggunnya. "Mau nyanyi lagu apa, Mas Pram? Biar Bunga yang cariin dan pencetkan judulnya."Pram berpikir sejenak, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia melirik Dara yang sedang menyandarkan punggungnya di sofa sambil menatapnya penuh minat. "Hmm, kalau aku nyanyi lagu rock, kalian keberatan nggak?"Dara mengangguk semangat, matanya berbinar. "Boleh banget! Aku suka kok dengerin musik yang agak keras."Intan bahkan mengacungkan jempolnya tinggi-tinggi sambil mulutnya masih sibuk mengunyah kentang goreng. "Gas terus, Mas! Rocker juga manusia, asal jangan dangdut koplo yang bikin pusing.""Oke, Rock ya. Apa judulnya biar Bunga carikan?" tanya Bunga sambil jarinya bersiap di atas layar."Lagu jadul sih, judulnya 'Kasih' dari band Boomer

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status