Se connecterSiulan Bastian Wijaya pagi ini terdengar lebih nyaring daripada bunyi klakson ojek pangkalan di depan gang. Ia berdiri di depan wastafel dapur "Posko Cinta", memutar-mutar kunci Vespa kuningnya dengan telunjuk sambil menunggu kopi instan buatannya sendiri larut.Wajahnya cerah, matanya berbinar, dan ada aura kemenangan yang memancar dari setiap gerak-geriknya."Cit, inget nggak badut yang semalam?" Bastian menoleh ke arah Citra Melati yang sedang mengelap meja makan. "Yang hidungnya bunyi tet-tet tiap kali lo kasih duit seribuan?"Citra tertawa kecil, tawanya lepas dan tidak tertahan. "Iya, Pak. Mana dia baper lagi pas Bapak bilang hidungnya mirip tombol bel rumah. Kasihan, Pak, dia kan cuma cari nafkah.""Tapi seru, kan? Nggak ada skrip, nggak ada sutradara. Murni chaos," Bastian menyeringai, lalu menyesap kopinya dengan gaya yang sangat santai.Elang Soerya yang duduk di sofa b
Lengket.Gula kapas berwarna merah muda itu menempel di ujung hidung Bastian Wijaya, membuatnya tampak seperti badut kelas atas yang tersesat di pasar malam. Citra Melati tertawa kecil, menyobek gumpalan arum manis miliknya sendiri yang teksturnya seperti awan sintetis."Hapus tuh, Pak. Malu-maluin CEO Media kalau ada yang motret," ujar Citra sambil menyodorkan selembar tisu kasar dari saku jaketnya.Bastian tidak mengambil tisu itu. Ia justru memajukan wajahnya, membiarkan Citra yang menyeka hidungnya."Biarin aja. Lagian nggak bakal ada yang motret," gumam Bastian. Suaranya terdengar lebih tenang, tanpa nada tinggi yang biasanya ia gunakan untuk menarik perhatian.Citra mengernyit. "Tumben. Biasanya Bapak paling panik kalau angle foto nggak estetik."Bastian merogoh saku jaket denimnya, memperlihatkan ponselnya yang masih dalam kondisi mati total.
Televisi layar datar di tengah "Posko Cinta" berkedip-kedip, memantulkan cahaya biru yang tajam ke wajah empat pria yang sedang menahan napas. Di tengah layar, sebuah roda digital dengan empat warna berbeda berputar dengan kecepatan tinggi, mengeluarkan suara tik-tik-tik yang ritmis dan menyiksa saraf.Raka Pradana memegang tabletnya dengan jempol yang siap menekan tombol stop. Wajahnya sedatar permukaan meja laboratorium, namun matanya tidak berkedip."Probabilitas kemenangan masing-masing adalah dua puluh lima persen. Algoritma ini murni acak, tidak ada bias emosional," gumam Raka.Jari Raka mengetuk layar.Roda itu melambat. Jarum digitalnya melewati warna biru tua milik Elang, bergeser pelan melewati hitam milik Damar, nyaris berhenti di hijau milik Raka, namun tersentak sekali lagi sebelum akhirnya berhenti tepat di tengah warna merah muda neon.BAS
Pukul 07.30 WIB.Atmosfer di ruang tengah "Posko Cinta" lebih panas daripada minyak jelantah di wajan penggorengan. Sisa nasi goreng di piring sudah tandas, tapi rasa cemburu masih mengendap tebal di udara, menciptakan ketegangan statis yang bisa menyengat kulit.Citra Melati menumpuk piring kotor dengan gerakan kasar.Prang! Prang!Bunyi piring beradu itu adalah kode morse yang berteriak: "Saya mau kabur."Citra mengangkat tumpukan piring itu, bersiap melarikan diri ke zona aman di belakang—tempat sabun cuci piring dan spons kasar tidak akan menatapnya dengan tatapan penuh nafsu atau posesif.Namun, baru dua langkah ia berjalan, sebuah tangan dingin dan kaku menahan sikunya."Berhenti," suara datar Raka Pradana terdengar di telinganya."Pak Raka, lepasin. Piring kotor ini kalau nggak dicuci sekarang, lemaknya b
Pukul 07.00 WIB.Suara sendok stainless steel yang jatuh menghantam lantai keramik terdengar nyaring, memecah keheningan pagi di dapur minimalis "Posko Cinta".Klontang!Citra Melati tersentak kaget. Tangannya yang biasanya cekatan membalik martabak atau menghitung uang kembalian, pagi ini terasa licin dan tidak bertenaga. Ia membungkuk cepat untuk memungut sendok itu, namun ujung sikunya justru menyenggol toples gula pasir.Brak. Srrrt.Butiran gula putih tumpah ruah di atas meja lipat, menyebar seperti pasir pantai yang berceceran."Aduh! Citra, fokus!" rutuknya pada diri sendiri sambil menepuk pipinya pelan. "Itu gula mahal. Semut di sini ganas-ganas."Citra mencoba membersihkan gula itu dengan lap basah, tapi gerakannya kaku. Pikirannya tidak ada di meja sarapan. Pikirannya masih tertinggal di sudut sempit bersekat rotan semalam.Masih terasa hangatnya napas Elang di bibirnya. Masih terasa getaran suara pria itu saat berbisik "milik saya". Dan yang paling parah, masih terasa kekec
Jarak itu kini tinggal selembar kertas tipis.Di luar, guntur menggelegar panjang, menggetarkan dinding kaca "Posko Cinta" yang basah oleh hujan. Namun di sudut sempit yang dibatasi sekat rotan itu, dunia Citra Melati menyusut hingga hanya tersisa sepasang mata abu-abu Elang Soerya.Napas Elang terasa hangat, berbau mint dan sisa aroma wine samar yang entah bagaimana selalu melekat padanya. Pria itu tidak langsung menyerang. Dia memberikan jeda. Sebuah celah waktu yang sangat krusial saat logika Citra seharusnya mengambil alih kendali.Lari, Citra, teriak otak kirinya. Harga diri. Logika pasar.Seharusnya, Citra mendorong dada bidang itu. Seharusnya, dia menampar pipi mulus Elang dengan tagihan. Seharusnya, dia melompat bangun dari kasur busa hijau norak itu dan kabur ke rumah ibunya.Tapi tubuhnya membatu.Bukan karena takut. Justru sebaliknya. Ada rasa penasaran yang menjalar dari ulu hati, merambat naik ke tenggorokan, dan mematikan seluruh sistem pertahanan dirinya.Tangan Elang y







