Aku berjalan tanpa tujuan, mengabaikan sakit lututku yang seperti sedang protes karena kehujanan.Aku harus cari hotel, tidak, motel saja untuk menginap semalam. Setelah itu aku akan pergi cari kerja dan mengontrak rumah.Aku mengeluarkan dompetku, mau memeriksa ada berapa banyak uang yang masih kupunya. Tapi aku malah menemukan satu kartu keanggotaan.Pestaria, sebuah klub mewah. Saat masih menjadi nona besar Keluarga Gunawan dulu, aku sering main ke sana bersama teman-teman.Tapi aku sudah tidak pernah ke sana lagi sekarang. Sejak Riki sukses, dia punya dua kartu keanggotaan di sana, dan sesekali pergi ke sana saat ada acara. Sedangkan aku sendiri jarang pergi.Aku ingat, kalau punya kartu itu, bisa pesan satu ruang privat. Artinya, aku bisa bermalam di sana tanpa memesan apa pun, dan hanya sekadar menumpang tidur di sofa.Ide ini membuatku geli sendiri. Waktu masih enam belas tahun, aku bahkan bisa buat menara sampanye di Pestaria demi menang lomba piano. Tapi sekarang aku malah mem
Read more