Share

Bab 3

Author: Unknown
Aku berjalan tanpa tujuan, mengabaikan sakit lututku yang seperti sedang protes karena kehujanan.

Aku harus cari hotel, tidak, motel saja untuk menginap semalam. Setelah itu aku akan pergi cari kerja dan mengontrak rumah.

Aku mengeluarkan dompetku, mau memeriksa ada berapa banyak uang yang masih kupunya. Tapi aku malah menemukan satu kartu keanggotaan.

Pestaria, sebuah klub mewah. Saat masih menjadi nona besar Keluarga Gunawan dulu, aku sering main ke sana bersama teman-teman.

Tapi aku sudah tidak pernah ke sana lagi sekarang. Sejak Riki sukses, dia punya dua kartu keanggotaan di sana, dan sesekali pergi ke sana saat ada acara. Sedangkan aku sendiri jarang pergi.

Aku ingat, kalau punya kartu itu, bisa pesan satu ruang privat. Artinya, aku bisa bermalam di sana tanpa memesan apa pun, dan hanya sekadar menumpang tidur di sofa.

Ide ini membuatku geli sendiri. Waktu masih enam belas tahun, aku bahkan bisa buat menara sampanye di Pestaria demi menang lomba piano. Tapi sekarang aku malah memikirkan cara agar bisa mendapatkan untung di sana.

Aku naik bus menuju Pestaria. Tempat itu dipenuhi gemerlap lampu dan ramai orang. Pakaianku masih basah, bekas airnya memang tidak terlalu terlihat saat berdiri di karpet berwarna gelap. Tapi aku tetap saja merasa sedikit canggung.

Resepsionis di sana sangat sigap. Meskipun aku terlihat lusuh dan menyedihkan, dia tetap menyambutku dengan ramah dan sopan.

Ruang privat itu sudah disiapkan. Ruangannya tidak terlalu besar, tapi sudah lebih dari cukup.

Petugas resepsionis membawakan koperku dan mengantarku ke ruangan.

Kedap suara yang dipasang di Pestaria sangat bagus. Mau seberisik apa pun ruangan privat yang ada di sini, lorong di sini tetap tenang dan sepi.

Tapi ruangan di depanku pintunya terbuka, dan aku bisa mendengar suara tawa dari dalam.

Aku tiba di ruangan privat yang kupesan. Aku merapikan diri dulu sebelum kembali ke meja resepsionis lagi untuk minta selimut.

Tapi siapa sangka, saat baru membuka pintu dan belum jalan sampai dua langkah, aku malah bertemu dengan Riki.

Dia membuka kancing kerah bajunya. Wajahnya sudah memerah karena mabuk. Sepertinya dia keluar mau cari udara segar. Dia tampak tertegun sejenak saat melihatku.

"Kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Riki. Dia mengerutkan kening, lalu tertawa dingin. "Tisya, kamu sebelumnya ribut minta cerai, tapi sekarang malah datang ke sini mencariku. Menyesal, ya?"

Aku malas meladeninya, dan sedikit menyampingkan badan karena mau melewatinya. Tapi dia malah menarik pergelangan tanganku.

Riki jelas mabuk. "Kamu sendiri yang datang ke sini, masih mau jual mahal? Kamu ini nggak punya harga diri, ya?"

Aku berontak dan mencoba menarik tanganku lagi. "Dasar narsis! Mending kamu periksa sana ke psikiater!"

Dia menolak melepaskanku. Aku juga tidak mau mengalah. Dia mendorongku ke dinding, tapi aku berbalik dan menghindar. Sayangnya, aku malah tanpa sengaja membuka pintu salah satu ruangan yang sedikit terbuka.

Ruangan itu terdengar berisik. Aku bisa dengar ada yang sedang berteriak mengatakan, "Hari ini, kita berkumpul untuk …. "

"Sedang apa kamu?"

Suara dingin seorang pria terdengar. Orang yang tadinya duduk di tengah sofa itu pun berdiri dan melihat apa yang sedang terjadi.

Ruangan privat yang tadinya berisik, sekarang mendadak hening seketika.

Ditatap orang-orang membuatku malu dan canggung. Aku mencoba berdiri dari karpet, tapi tatapanku malah gelap dan sempoyongan saat mau berdiri.

Detik berikutnya, Riki menarik keras lenganku.

Dari dulu aku paling benci kalau Riki mabuk. Dia sebenarnya tidak kuat minum. Emosinya jadi tidak stabil kalau sudah mabuk.

Sama seperti sekarang. Cengkeramannya membuat lenganku sakit. Kata-kata yang keluar dari mulutnya juga jauh lebih menyakitkan.

"Tisya, kamu sudah dapat orang yang baru?"

Aku mengerutkan kening mendengar ucapan sinisnya barusan. Saat pandanganku kembali normal, aku baru sadar kalau pria yang ada di ruangan privat ini adalah Erwin.

Sosok Erwin diingatanku masih sama seperti tujuh tahun lalu. Pria itu masih terkesan pendiam dan tidak menarik.

Dia menjadi tunanganku setelah ulang tahunku yang ke-16. Tidak ada cerita soal cinta monyet di antara kami.

Dia selalu menyiapkan hadiah yang pantas setiap kali liburan, dan aku akan membalasnya dengan sopan.

Jujur saja, Erwin sebenarnya sangat layak untuk dijadikan suami. Tapi waktu itu aku lebih memilih cinta.

Sekarang, aku dan Riki malah muncul di depannya dalam kondisi menyedihkan begini. Rasanya, aku seperti sedang ditunjukkan kesalahan apa yang sudah kubuat sewaktu masih muda.

Sebelum aku sempat mengatakan sesuatu, Erwin lebih dulu maju menghampiriku.

Dia tidak minum alkohol, sosoknya terlihat tenang dan berwibawa. Tujuh tahun telah berlalu, dia yang dulu terlihat polos, kini berubah jadi makin tampak tegas.

"Memang paling enak itu, mantan suami yang ideal adalah yang tahu diri untuk menghilang selamanya. Sudah tahu mantan istrinya kembali ke pilihan awal yang tepat, masih juga berani datang untuk mempermalukan diri sendiri?" Erwin langsung membuka mulut dan membelaku.

Dia mencengkeram pergelangan tangan Riki agar pria itu melepaskan tanganku. Setelah itu, dengan masih mencoba menahan emosinya, Erwin menarikku agar berlindung di belakangnya.

"Kalian kan sudah cerai, apa hakmu menghalanginya? Sikapmu barusan sama saja dengan kekerasan."

"Lalu, kamu sendiri?" Riki asal membalas.

Erwin terdiam sejenak. Dia lalu tiba-tiba tersenyum menyeringai.

"Bukannya kamu tadi sudah bilang sendiri? Aku yang baru, cinta yang baru, pacarnya sekarang." Erwin menjawab.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tujuh Tahun yang Salah   Bab 9

    Tim kuasa hukumku menuntut Anna dengan tuntutan hukuman seumur hidup.Setelah insiden itu, aku sedikit memanipulasi opini publik. Kini penculikan itu jadi drama besar keluarga kaya yang penuh intrik.Orang-orang mulai mencari tahu soal masa laluku dan Riki. Mereka bilang ini baru yang namanya drama asli kehidupan. Hal ini juga membuat nama Riki muncul menjadi topik panas di pencarian.Tekanan publik akibat perselingkuhan yang dia lakukan membuat pukulan besar bagi perusahaannya. Sementara aku, berkat imej wanita dewasa yang tegas, aku malah berhasil membuat harga saham Keluarga Gunawan meroket.Tak lama kemudian, perusahaan Riki pun berada di bawah kendali kami, dan aku ikut mengambil bagian dari “hasilnya”.Riki awalnya masih berusaha menghubungiku lagi. Tapi kemudian dia menghilang tanpa jejak.Bertahun-tahun setelahnya, aku kebetulan tahu kalau Anna yang berkelakuan baik di penjara, akhirnya dapat pengurangan hukuman, bahkan sampai dibebaskan. Namun, aku juga tidak pernah bertemu la

  • Tujuh Tahun yang Salah   Bab 8

    Semuanya menjadi jauh lebih mudah. Anna langsung diringkus. Aku seharusnya ke rumah sakit, tapi setelah dipikir-pikir lagi, karena lukaku tidak serius dan cuma diberi perban biasa, aku pun ikut pergi ke kantor polisi untuk dimintai keterangan.Di dalam mobil polisi, aku tidak tahan untuk bertanya pada Erwin, "Kok kamu bisa tahu kalau aku kenapa-kenapa?"Sorot matanya jelas menunjukkan kecemasannya saat menatapku. "Aku tadinya mau tanya kamu pengin makan siang apa, tapi kamu nggak balas pesanku. Dari situ aku menebak-nebak kalau kamu mungkin kenapa-kenapa."Erwin mengangkat tangan seperti mau menyentuh perbanku. Tapi dia lalu mengurungkan niatnya dan menarik tangannya lagi. Kemudian dia berkata dengan nada bicara yang seolah ikut tersakiti, "Aku sudah tanya ke asistenmu, tapi nggak dapat kabar apa-apa. Makanya aku langsung lapor polisi. Tapi tetap saja telat."Entah mengapa ucapannya membuatku merasa campur aduk. "Nggak telat juga, kok. Kan aku masih hidup sekarang. Ucapanmu itu seperti

  • Tujuh Tahun yang Salah   Bab 7

    Aku terbangun di sebuah pabrik terbengkalai.Aku terikat di kursi dan tidak bisa bergerak. Kepalaku masih pusing, sepertinya aku dipukul sampai pingsan dan dibawa ke sini.Aku menatap ke sekeliling, lalu melihat dua orang pria berpakaian hitam. Mereka bertubuh besar dan terlihat sedang menatapku.Aku berusaha tenang dan memutuskan untuk mencoba bicara dengan mereka berdua dulu. "Mau tebusan berapa? Keluargaku pasti sanggup, jadi jangan bertindak gegabah.""Diam!" Suara sinis seorang wanita terdengar.Anna berjalan masuk dari luar. Wajahnya tampak pucat saat sedang menatap penuh kebencian padaku.Dia berjalan menghampiriku lalu menamparku.Tamparannya kali ini tidak main-main. Aku bisa merasakan ada darah mengalir dari bibirku.Dia mencengkeram kerah bajuku dan berteriak histeris, "Kenapa! Kenapa! Kenapa! Bahkan setelah kalian bercerai, dia masih saja kangen sama kamu! Padahal aku sudah hamil! Dia malah menyuruhku menggugurkannya. Dia menggugurkan anakku dan mau kembali ke kamu! Kenapa!

  • Tujuh Tahun yang Salah   Bab 6

    Aku kembali dengan sangat percaya diri dan memukau. Aku berhasil meninggalkan kesan bagus di depan orang-orang yang akan jadi rekanku kelak.Aku harus melakukan yang terbaik dan menjadi sukses. Dengan begitu, masa laluku tidak akan menjadi kelemahanku. Malah akan dianggap sekadar cerita cinta sepele.Setelah pesta berakhir, para tamu pergi satu per satu. Kecuali satu orang yang tetap tinggal.Erwin berdiri di samping ayahnya. Dia terlihat memejamkan mata, entah apa yang sedang dia pikirkan.Aku mencoba menebak-nebak apa yang akan dia lakukan. Benar saja, karena setelah ini ayahku angkat bicara."Tisya, Erwin bilang kamu sudah bercerai sekarang. Tapi pertunanganmu sama Erwin masih bisa dilanjutkan. Bagaimana menurutmu?"Usai kalimat barusan terlontar, Erwin terlihat membelalakkan mata dan menunggu jawabanku.Aku mengerjapkan mata dan tersenyum pada ayahku, lalu berkata, "Tunangan dan yang lainnya itu urusan nanti. Aku masih mementingkan karierku. Aku rasa kurang bagus untuk perkembangan

  • Tujuh Tahun yang Salah   Bab 5

    Aku pulang ke rumah sebelum jam makan malam, tapi sudah banyak makanan hangat yang terhidang di atas meja makan.Aku suka makan udang, tapi Riki alergi udang. Aku baru mengingat ini saat melihat ada sepiring besar udang yang tersaji di tengah meja makan.Ah, aku sudah tujuh tahun tidak makan udang.Begitu ibuku melihatku, dia langsung meneteskan air mata."Ayo makan dulu." Dia mengusap air matanya dan tidak mau membahas hal buruk itu.Aku mengangguk. Aku lupa rasa masakan rumah, tapi begitu makanan ini masuk ke mulutku, aku langsung ingat.Aku berusaha mengerjapkan mata agar tidak menangis, dan lanjut memakan makanan ini sesuap demi sesuap."Kenapa menangis?" Ayah berjalan dari ruang tamu.Dia memasang wajah dingin, hawa dingin di luar juga masih melekat di bajunya."Menangis terus, bisanya cuma menangis. Kan sudah kubilang dari awal, kamu sendiri yang nggak mau dengar. Dulu kamu nekat menikah sendiri, sekarang malah menangis!"Ibuku mendorong ayahku sambil bilang, "Mana ada orang yang

  • Tujuh Tahun yang Salah   Bab 4

    Aku sempat mengira kalau Riki akan memukul Erwin, tapi ternyata tidak.Karena kemudian Anna datang.Aku baru sadar kalau Riki datang ke Pestaria bersama Anna.Lucu, aku sudah tujuh tahun menikah dengannya. Tapi dia tidak pernah mengajakku ke sini sama sekali. Bahkan meskipun aku sangat mengenal tempat ini, dia tidak mau aku datang ke sini lagi. Namun, dia sendiri malah mengajak selingkuhannya jalan-jalan."Pak Riki, semuanya sudah menunggu …. " Anna menghentikan kalimatnya saat melihat suasana di sini. Dia lalu tertawa."Katanya cuma buat merayakan kehamilanku? Masa harus sampai minum sebanyak ini?" Nada bicara Anna terdengar aneh. Dia lalu berjalan maju untuk memegangi Riki. Tapi dia tetap melirikku dengan tatapan memusuhi. "Sudah, sudah. Kamu sudah mabuk begini, ayo pulang saja."Kepalan tangan Riki perlahan terbuka. Dia masih terus menatapku sampai akhirnya senyum di bibir Anna membeku. Kemudian pria itu seolah tersadar dan akhirnya merangkul pinggang Anna."Ayo, kita pulang."Riki

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status