Share

Tujuh Tahun yang Salah
Tujuh Tahun yang Salah
Author: Unknown

Bab 1

Author: Unknown
Riki tidak membalas pesanku, itu wajar.

Dia mungkin masih 'lembur' di ranjang bersama wanita lain. Dia mana punya waktu untuk memedulikanku.

Cuaca hari ini sedang buruk, turun hujan gerimis. Udara terasa lembab dan dinginnya begitu menusuk. Lututku sampai ngilu kesakitan.

Waktu bos fotokopi menyerahkan surat cerai padaku, dia menatapku dua kali, baru akhirnya berkata, "Sebaiknya jangan gegabah mengambil keputusan, kan kalian sudah hidup bersama sebagai suami dan istri."

"Aku sudah lama mempertimbangkannya, kok." Aku berkata sambil menerima setumpuk kertas darinya, dan berusaha mempertahankan senyum sopan.

Aku memang sudah lama memikirkan keputusanku ini.

Sekretaris Riki terus saja mencari cara untuk memprovokasiku. Dia terus berusaha membuatku agar merelakan posisiku sebagai istri Riki.

Masalah ini membuatku jadi paranoid, bahkan histeris seperti orang gila. Ini benar-benar memalukan.

Sekarang, akhirnya aku sadar. Aku sudah tidak lagi menginginkan posisi sebagai istri Riki.

Aku menunggu Riki pulang ke rumah, hendak membahas hal ini dengannya.

Riki baru pulang jam dua dini hari.

Di kerah kemeja putihnya ada bekas anggur dan lipstik, bahkan ada sehelai rambut merah yang juga tertinggal di jasnya.

Riki menatap makanan yang tidak tersentuh sama sekali di atas meja makan. Sebelum sempat mengatakan apa-apa, dia mengerutkan kening dan tampak mematung saat melihat berkas di atas meja.

[Surat cerai.]

Akhir-akhir ini kondisi sarafku sedang tidak baik. Riki langsung membangunkanku saat melihatku tertidur.

"Tisya, kamu nggak usah bikin ulah." Riki yang terlihat lelah, mengatakannya sambil memegang surat cerai.

"Apa kamu harus sampai mengancamku pakai surat cerai begini? Kamu nggak memikirkan reputasiku? Kan sudah kubilang, wanita itu cuma mainan. Dia cuma mainan!"

Aku menatap wajahnya dengan saksama, dan malah merasa asing. Apa yang dulu bisa membuatku jatuh cinta pada pria sepertinya?

Tapi entah kenapa, aku malah merasa lega. Dengan tenang aku berkata, "Aku serius, Riki. Kita cerai saja."

Riki enggan mengalah dan malah terus mendesak, "Tisya, kamu kira kamu masih nona besar seperti dulu? Kamu itu nggak bisa hamil, tapi aku juga nggak pernah mempermasalahkannya. Aku memang punya beberapa selingkuhan di luar sana, tapi kan nggak pernah aku bawah pulang. Kamu …. "

Aku menyela ucapannya, "Tapi aku sudah jijik padamu, Riki."

Kami berdebat semalaman. Tapi tetap saja tidak membuahkan hasil.

Pagi harinya, Riki kembali berangkat ke kantor. Aku sendiri memutuskan untuk memeriksa surat cerai di rumah.

Ponselku berbunyi, ada panggilan dari nomor asing.

Aku menerima telepon tersebut. Suara seorang wanita terdengar dari seberang telepon, "Bu Tisya, ini Anna, aku mau ketemu."

Aku makin memegang erat ponselku, lalu menjawab dengan tenang, "Baiklah."

Kami janjian bertemu di kafe yang ada di lantai bawah kantor Riki.

Sejujurnya, Anna ini wanita yang amat cantik.

Rambutnya hitam bergelombang. Ujung rambutnya sedikit berwarna merah anggur. Dia juga punya bentuk tubuh yang bagus, dengan dada dan pinggul yang menonjol. Sepasang matanya seperti mata rubah, terlihat menggoda.

Dia wanita yang ramah, memesona, dan jago mencerahkan suasana.

Sementara aku, aku orangnya datar, hambar, dan kuno.

Begitu dia duduk di kursi, Anna langsung berterus terang mengatakan, "Aku malu lihat Bu Tisya yang seorang istri, tapi nggak bisa mengendalikan suami sendiri."

Sebelum aku bisa membalas ucapannya, dia sudah lebih dulu melemparkan surat kehamilan.

"Aku hamil anaknya Riki. Tolong kamu mundur dari posisimu sebagai istrinya, dan biarkan orang yang lebih pantas yang jadi istrinya."

"Soal itu, kamu harus bilang sendiri ke Riki." Aku malas melihat surat kehamilan darinya, dan hanya menunduk lalu mengaduk kopiku searah jarum jam.

Anna berdiri dan berjalan menghampiriku. Dia lalu menatap ke arah jendela. "Dia akan segera tahu."

"Ah!" Anna terhuyung ke belakang. Tangannya menyenggol kopiku sampai tumpah membasahi tubuhnya. Penampilannya kini terlihat menyedihkan.

"Anna!" Teriakan kaget terdengar. Riki bergegas menghampiri dan memeluknya agar tidak jatuh.

Riki memicingkan mata saat melihat surat kehamilan di atas meja. Dia lalu menunduk menatap Anna dalam pelukannya. "Kamu hamil?"

Anna tampak menangis ketakutan karena nyaris jatuh. "Maaf, aku cuma, cuma nggak mau anak ini jadi anak haram. Aku cuma mau Bu Tisya mengakui anak ini. Aku seharusnya nggak …. "

Plak!

Satu tamparan keras mendarat di pipiku.

"Cukup, Tisya!" Riki menatapku kecewa. "Kenapa kamu bisa berubah begini?"

Separuh wajahku terasa perih, telingaku juga berdengung, membuatku tidak bisa mendengar jelas ucapan Riki.

Tanpa pikir panjang, aku meraih gelas kopi Anna dan menyiramkannya ke sepasang pria dan wanita tidak tahu malu itu. "Pergi sana!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tujuh Tahun yang Salah   Bab 9

    Tim kuasa hukumku menuntut Anna dengan tuntutan hukuman seumur hidup.Setelah insiden itu, aku sedikit memanipulasi opini publik. Kini penculikan itu jadi drama besar keluarga kaya yang penuh intrik.Orang-orang mulai mencari tahu soal masa laluku dan Riki. Mereka bilang ini baru yang namanya drama asli kehidupan. Hal ini juga membuat nama Riki muncul menjadi topik panas di pencarian.Tekanan publik akibat perselingkuhan yang dia lakukan membuat pukulan besar bagi perusahaannya. Sementara aku, berkat imej wanita dewasa yang tegas, aku malah berhasil membuat harga saham Keluarga Gunawan meroket.Tak lama kemudian, perusahaan Riki pun berada di bawah kendali kami, dan aku ikut mengambil bagian dari “hasilnya”.Riki awalnya masih berusaha menghubungiku lagi. Tapi kemudian dia menghilang tanpa jejak.Bertahun-tahun setelahnya, aku kebetulan tahu kalau Anna yang berkelakuan baik di penjara, akhirnya dapat pengurangan hukuman, bahkan sampai dibebaskan. Namun, aku juga tidak pernah bertemu la

  • Tujuh Tahun yang Salah   Bab 8

    Semuanya menjadi jauh lebih mudah. Anna langsung diringkus. Aku seharusnya ke rumah sakit, tapi setelah dipikir-pikir lagi, karena lukaku tidak serius dan cuma diberi perban biasa, aku pun ikut pergi ke kantor polisi untuk dimintai keterangan.Di dalam mobil polisi, aku tidak tahan untuk bertanya pada Erwin, "Kok kamu bisa tahu kalau aku kenapa-kenapa?"Sorot matanya jelas menunjukkan kecemasannya saat menatapku. "Aku tadinya mau tanya kamu pengin makan siang apa, tapi kamu nggak balas pesanku. Dari situ aku menebak-nebak kalau kamu mungkin kenapa-kenapa."Erwin mengangkat tangan seperti mau menyentuh perbanku. Tapi dia lalu mengurungkan niatnya dan menarik tangannya lagi. Kemudian dia berkata dengan nada bicara yang seolah ikut tersakiti, "Aku sudah tanya ke asistenmu, tapi nggak dapat kabar apa-apa. Makanya aku langsung lapor polisi. Tapi tetap saja telat."Entah mengapa ucapannya membuatku merasa campur aduk. "Nggak telat juga, kok. Kan aku masih hidup sekarang. Ucapanmu itu seperti

  • Tujuh Tahun yang Salah   Bab 7

    Aku terbangun di sebuah pabrik terbengkalai.Aku terikat di kursi dan tidak bisa bergerak. Kepalaku masih pusing, sepertinya aku dipukul sampai pingsan dan dibawa ke sini.Aku menatap ke sekeliling, lalu melihat dua orang pria berpakaian hitam. Mereka bertubuh besar dan terlihat sedang menatapku.Aku berusaha tenang dan memutuskan untuk mencoba bicara dengan mereka berdua dulu. "Mau tebusan berapa? Keluargaku pasti sanggup, jadi jangan bertindak gegabah.""Diam!" Suara sinis seorang wanita terdengar.Anna berjalan masuk dari luar. Wajahnya tampak pucat saat sedang menatap penuh kebencian padaku.Dia berjalan menghampiriku lalu menamparku.Tamparannya kali ini tidak main-main. Aku bisa merasakan ada darah mengalir dari bibirku.Dia mencengkeram kerah bajuku dan berteriak histeris, "Kenapa! Kenapa! Kenapa! Bahkan setelah kalian bercerai, dia masih saja kangen sama kamu! Padahal aku sudah hamil! Dia malah menyuruhku menggugurkannya. Dia menggugurkan anakku dan mau kembali ke kamu! Kenapa!

  • Tujuh Tahun yang Salah   Bab 6

    Aku kembali dengan sangat percaya diri dan memukau. Aku berhasil meninggalkan kesan bagus di depan orang-orang yang akan jadi rekanku kelak.Aku harus melakukan yang terbaik dan menjadi sukses. Dengan begitu, masa laluku tidak akan menjadi kelemahanku. Malah akan dianggap sekadar cerita cinta sepele.Setelah pesta berakhir, para tamu pergi satu per satu. Kecuali satu orang yang tetap tinggal.Erwin berdiri di samping ayahnya. Dia terlihat memejamkan mata, entah apa yang sedang dia pikirkan.Aku mencoba menebak-nebak apa yang akan dia lakukan. Benar saja, karena setelah ini ayahku angkat bicara."Tisya, Erwin bilang kamu sudah bercerai sekarang. Tapi pertunanganmu sama Erwin masih bisa dilanjutkan. Bagaimana menurutmu?"Usai kalimat barusan terlontar, Erwin terlihat membelalakkan mata dan menunggu jawabanku.Aku mengerjapkan mata dan tersenyum pada ayahku, lalu berkata, "Tunangan dan yang lainnya itu urusan nanti. Aku masih mementingkan karierku. Aku rasa kurang bagus untuk perkembangan

  • Tujuh Tahun yang Salah   Bab 5

    Aku pulang ke rumah sebelum jam makan malam, tapi sudah banyak makanan hangat yang terhidang di atas meja makan.Aku suka makan udang, tapi Riki alergi udang. Aku baru mengingat ini saat melihat ada sepiring besar udang yang tersaji di tengah meja makan.Ah, aku sudah tujuh tahun tidak makan udang.Begitu ibuku melihatku, dia langsung meneteskan air mata."Ayo makan dulu." Dia mengusap air matanya dan tidak mau membahas hal buruk itu.Aku mengangguk. Aku lupa rasa masakan rumah, tapi begitu makanan ini masuk ke mulutku, aku langsung ingat.Aku berusaha mengerjapkan mata agar tidak menangis, dan lanjut memakan makanan ini sesuap demi sesuap."Kenapa menangis?" Ayah berjalan dari ruang tamu.Dia memasang wajah dingin, hawa dingin di luar juga masih melekat di bajunya."Menangis terus, bisanya cuma menangis. Kan sudah kubilang dari awal, kamu sendiri yang nggak mau dengar. Dulu kamu nekat menikah sendiri, sekarang malah menangis!"Ibuku mendorong ayahku sambil bilang, "Mana ada orang yang

  • Tujuh Tahun yang Salah   Bab 4

    Aku sempat mengira kalau Riki akan memukul Erwin, tapi ternyata tidak.Karena kemudian Anna datang.Aku baru sadar kalau Riki datang ke Pestaria bersama Anna.Lucu, aku sudah tujuh tahun menikah dengannya. Tapi dia tidak pernah mengajakku ke sini sama sekali. Bahkan meskipun aku sangat mengenal tempat ini, dia tidak mau aku datang ke sini lagi. Namun, dia sendiri malah mengajak selingkuhannya jalan-jalan."Pak Riki, semuanya sudah menunggu …. " Anna menghentikan kalimatnya saat melihat suasana di sini. Dia lalu tertawa."Katanya cuma buat merayakan kehamilanku? Masa harus sampai minum sebanyak ini?" Nada bicara Anna terdengar aneh. Dia lalu berjalan maju untuk memegangi Riki. Tapi dia tetap melirikku dengan tatapan memusuhi. "Sudah, sudah. Kamu sudah mabuk begini, ayo pulang saja."Kepalan tangan Riki perlahan terbuka. Dia masih terus menatapku sampai akhirnya senyum di bibir Anna membeku. Kemudian pria itu seolah tersadar dan akhirnya merangkul pinggang Anna."Ayo, kita pulang."Riki

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status