Tanpa membuang waktu, Tetua Luu menyambar secarik kain lap kusam yang tergeletak di dekat tungku. Dengan gerakan cepat namun hati-hati, ia membalut telapak tangan Qu Cing, menutupi pola matahari emas yang berdenyut itu hingga tak terlihat lagi."Jangan pernah buka kain ini di depan siapa pun," bisik Tetua Luu tajam. "Kecuali kau ingin lehermu dipisahkan dari badanmu besok pagi."Qu Cing mengangguk kaku, masih syok dengan semua kejadian ini.Tak lama kemudian, napas Miao Meng mulai terdengar teratur kembali. Kelopak matanya bergetar, lalu terbuka perlahan. Warna hijau di matanya sudah kembali jernih, meski wajahnya masih sedikit pucat.Hal pertama yang ia lihat adalah perban kain kusam di tangan Qu Cing.Miao Meng langsung menoleh ke arah Tetua Luu. Tatapan wanita itu tajam, menyelidik."Anda... melihatnya?" tanyanya datar.Tetua Luu mendengus sambil kembali mengaduk panci obat di tungku, pura-pura sibuk. "Aku ini tua, Nona, bukan buta. Tanda sejelas itu, hanya orang mati yang t
Read more