Setelah menghabiskan waktu berhari-hari menembus lebatnya Hutan Kabut Selatan, Tetua Mei akhirnya kembali ke sekte. Wajahnya sangat dingin, sedingin es di puncak gunung."Tetua... kami sudah menyisir seluruh radius sepuluh li. Benar-benar tidak ada jejak Rumput Ilalang Iblis Berbisa di sana," lapor seorang murid intelijen dengan suara gemetar. Ia menunduk dalam, tak berani menatap mata wanita tua itu."Tentu saja tidak ada," desis Tetua Mei. Nada suaranya datar, tapi cukup untuk membuat murid itu merinding. "Karena sejak awal, rumput itu memang tidak pernah tumbuh di sana. Kalian bodoh, dan aku pun bodoh karena memakan umpan ini. Kita sudah dipermainkan."Malam itu, bukannya kembali ke paviliunnya untuk beristirahat, Tetua Mei berjalan sendirian menyusuri tepian Sungai Hitam, sungai berair gelap yang mengelilingi Wilayah Inti. Wajah keriputnya tampak keras.'Siapa pun yang berani membuat laporan palsu dan memanipulasi jadwal penugasanku pasti memiliki kekuasaan tinggi,' batinnya tajam
Read more