Pagi itu, kabut di Wilayah Inti terasa lebih tebal dari biasanya, seolah menyembunyikan rahasia yang baru saja terkubur. Desas-desus tentang kematian murid lumpuh di gubuk tua sudah menyebar, menjadi obrolan sambil lalu para murid yang sibuk berlatih pedang. Bagi mereka, hilangnya satu nyawa tak berguna hanyalah kewajaran di dunia persilatan yang keras.Namun, di gerbang utama, sebuah babak baru sedang dimulai.Tiga hari setelah malam pertemuan di gubuk, sesosok remaja muncul dari jalan setapak yang menanjak menuju gerbang Wilayah Inti.Ia bukan lagi Qu Cing yang kurus dan rapuh.Remaja itu berdiri tegap, mengenakan jubah biru gelap yang sederhana namun bersih. Rambutnya dipotong pendek dengan gaya yang sedikit berantakan di bagian depan, memberikan kesan liar namun segar. Di kedua pipinya, tiga garis hitam tipis tergambar samar, menyamarkan tulang pipinya yang tegas.Di bahu kirinya, seekor kucing putih berbulu tebal duduk dengan tenang, ekornya melingkar malas di leher si pemuda.Te
Read more