Langkah kaki Lin Feng terasa berat, seolah setiap jengkal lantai istana yang ia pijak berubah menjadi lumpur yang menghisapnya ke dalam bumi. Di tangannya, lencana serigala itu terasa semakin dingin, namun di dalam benaknya, pengakuan Yan Lu membakar kewarasannya.Lin Feng berdiri di persimpangan koridor yang sunyi. Ia merasa seperti sedang memakan buah simalakama saat ini, jika ia melaporkan pengakuan Yan Lu kepada Chen Xu, ia akan menyulut api hukuman mati dan pertarungan berdarah yang akan menghancurkan fondasi militer kekaisaran. Namun, jika ia diam, ia mengkhianati sumpahnya kepada sang Naga.“Tidak mungkin Jenderal Yan melakukannya demi ambisi rendah,” batin Lin Feng. Ia mengingat getaran di tangan Yan Lu, air mata yang jatuh diam-diam, dan keputusasaan yang meluap dari sorot matanya. Itu bukan sorot mata seorang pengkhianat, melainkan sorot mata seorang martir yang sedang menyerahkan lehernya ke tiang gantungan demi sesuatu yang lebih besar.Menyadari bahwa Chen Xu saat in
Read More