Bukan hanya Rudra, naluri Isvara sebagai wanita juga telah bangkit dengan sempurna. Seulas senyum menantang terukir di bibir Isvara yang basah. "Tentu, Pangeran. Aku adalah milikmu malam ini. Lagi pula... bajuku sangat mudah untuk dibuka," goda Isvara.Mendengar sebutan baru dari istrinya, mata Rudra semakin menggelap. "Pangeran...?"Isvara mengangguk kecil, jemarinya mengusap rahang tegas Rudra. "Kau memang seorang Pangeran, bukan? Pangeran pewaris takhta Suryajaya,” lirih Isvara.“Sebenarnya, pernikahan kita ini justru akan menyatukan darah kedua kerajaan. Dengan begitu, dendam masa lalu bisa dihapuskan.”“Putri tidak hanya cantik, tetapi juga sangat baik hati," puji Rudra.Rasa cinta yang semakin meluap membuat Rudra ingin mencium Isvara sekali lagi. Namun, sang Putri malah mendorong tubuhnya agar sedikit menjauh.“Mulai sekarang... karena kita sudah menjadi suami istri sungguhan, tidak usah bicara formal 'hamba' atau 'putri' lagi. Kalau kau tetap bersikap begitu, aku akan marah p
Read more