Jemari Isvara sedikit gemetar saat menerima kunci besi dari tangan Dhyaka Praba. Namun, matanya memancarkan tekad yang bulat. Tanpa membuang waktu satu detik pun, Isvara mengangkat gaun sutranya tinggi-tinggi. Ia berlari sekencang mungkin, menembus koridor istana yang mulai dipenuhi jeritan panik para dayang. Bisma, Kusala, dan beberapa prajurit mengikuti di belakangnya laksana barisan pelindung.Langkah Isvara bergema cepat menuju sisi paling belakang istana yang jarang dikunjungi. Begitu tiba di depan pintu, Isvara berpapasan dengan Ratih yang hendak kembali ke Paviliun Padma.“Putri, hamba tidak diizinkan mengantar makanan kepada Jenderal,” kata Ratih cemas.“Tidak apa-apa, Ratih. Makanan itu tidak diperlukan lagi,” ujar Isvara.Dengan tergesa-gesa, Isvara menuju ke ruangan khusus di dalam paviliun yang dilapisi oleh jeruji besi. Ia melihat Rudra sedang duduk bersila di tengah keremangan. Pria itu tampak tenang, seolah riuh rendah terompet perang di luar sana tidak mampu mengus
Read more