Fajar telah menyingsing di ufuk timur Mahipura, disertai bunyi kokok ayam yang bersahut-sahutan. Di dalam Paviliun, Isvara sudah terbangun bahkan sebelum lonceng kuil berdentang. Matanya terbuka lebar, jernih, dan penuh antisipasi. "Ratih, Bibi Sumi," panggil Isvara, suaranya bergema tegas di keheningan fajar."Siapkan air pemandian dengan rempah kenanga dan cendana. Hari ini, aku harus tampil percaya diri.”Kedua dayangnya bergerak cepat, meski tangan mereka gemetar. Mereka tahu bahwa Putri Mahkota akan mempertaruhkan nama baiknya di Pengadilan Tinggi.Isvara berdiri di tengah ruangan, sementara para dayang membalut tubuhnya dengan Wastra Sutra kencana berwarna merah marun. Kain itu dililitkan dengan teknik yang rumit, memberikan kesan megah sekaligus tangguh. Sebagai pelengkap penampilan, para dayang membantu sang Putri mengenakan perhiasan dada dari emas dan batu ruby.Usai berpakaian, Isvara menekan patung merak dan mengeluarkan Jarum Pemutus Sukma dari kotak penyimpanan. Inila
Leer más