"Jika Tuan Putri butuh rasa aman, hamba akan menambah jumlah prajurit Garda Hitam untuk mengawal Anda. Mereka akan menjaga setiap pintu masuk," jawab Rudra formal.Namun, Isvara menggeleng kuat-kuat. "Aku tidak mau kalau dikawal prajurit biasa. Aku ingin kau sendiri yang menemaniku, Rudra,” rengek Isvara. Rudra terkejut. Ekspresi datarnya sedikit retak, menunjukkan rasa tidak percaya. "Maaf, Tuan Putri, hamba tidak bisa. Hamba memiliki tugas lain yang jauh lebih penting, daripada sekadar menghadiri lomba.”Mendengar penolakan mentah-mentah itu, Isvara tak patah semangat. Lekas saja, ia menjalankan akting andalannya. Dalam hitungan detik, Isvara berpura-pura lunglai dan terduduk lemas di kursi. Raut wajahnya dibuat sesedih mungkin."Kau sangat keterlaluan, Rudra," bisiknya dengan nada dramatis. "Katanya tugas utamamu adalah melindungi simbol kerajaan, termasuk aku. Tapi kau ingkar.”Isvara menundukkan kepala, seperti orang yang dirundung duka. Padahal, ia sedang memaksakan matanya t
Leer más