SUMPAH DARAH DI BAWAH POHON BERINGINHujan di luar vila kolonial Taipa telah berubah menjadi gerimis tipis yang membawa aroma tanah basah dan lumut purba, merayap masuk melalui celah jendela kayu yang sedikit terbuka. Di dalam kamar, api perapian telah mengecil, menyisakan bara merah yang berdenyut seperti jantung yang sekarat. Ragnar masih terjaga, matanya yang tajam menatap surat di tangannya seolah kata-kata di sana adalah vonis mati sekaligus mahkota kekuasaan.Valencia bergerak sedikit dalam tidurnya, mengerang lirih dengan nada manja yang khas. Tubuhnya yang mungil mencari panas dari dada Ragnar, jemarinya yang lentik mencengkeram kemeja Ragnar yang sudah terbuka, seolah-olah ia sedang memegang satu-satunya dahan di tengah badai. Aroma kamboja yang keluar dari kulit Valencia kini terasa lebih berat, lebih memabukkan, memenuhi paru-paru Ragnar hingga ke dasarnya."Ragnar... jangan tinggalkan I... You berjanji..."Valencia mengigau, kelopak matanya yang bergetar memperlihatkan bin
Read more