“Ziva setuju buat ketemu,” beri tahu Kylar begitu selesai menelepon putrinya. Dia meletakkan ponsel di atas meja, lalu menoleh kepada Ryn yang sejak tadi menunggu kabar dengan penuh rasa ingin tahu.“Dia minta ditemenin nggak? Kalau dia mau, aku bisa ke sana,” tawar Ryn spontan. Sebagai ibu, dia tentu ingin memastikan Ziva baik-baik saja, apalagi pertemuan itu pasti bukan perkara mudah bagi putri mereka.Kylar langsung menoleh, menatap istrinya dengan ekspresi yang sulit dibantah.“Sayang, ingat keadaan kamu sekarang, ya? Berhenti mikirin semua hal seolah-olah kamu harus turun tangan sendiri.” Dia meraih tangan Ryn, menggenggamnya lembut. “Ziva tadi bilang mau pergi sendiri. Jadi, biarin dia jalani ini dengan caranya. Kalau nanti dia butuh kita, dia tahu harus menghubungi siapa.”Ryn mengembuskan napas pelan sebelum mengangguk. Dia tahu Kylar benar, meskipun kebiasaannya mengkhawatirkan anak-anak terkadang membuatnya sulit duduk diam ketika mereka menghadapi masalah.“Iya, deh. Tapi Ma
Read more