“Maaf ya, Sayang.”Entah sudah berapa ratus kali Kylar mengucapkan kalimat itu sejak Ryn kembali ke rumah dua bulan lalu. Kadang disertai pelukan, kadang dengan kecupan di kening, dan kadang hanya berupa bisikan ketika mereka berbaring berdampingan sebelum tidur.Kylar tahu permintaan maaf tidak akan menghapus apa yang sudah terjadi, tetapi dia tetap mengatakannya karena sampai sekarang pun, rasa bersalah itu belum benar-benar pergi.Sore ini, mereka sedang bersantai di teras vila pribadi mereka di Bali, tempat hamparan pasir putih terbentang tepat di balik halaman belakang. Angin laut berembus lembut, membawa aroma asin yang bercampur dengan wangi bunga dari taman kecil di sisi vila.Ryn menyandarkan kepala di paha Kylar, sementara pria itu sesekali mengusap rambut istrinya. Tidak jauh dari sana, si kembar bermain di pinggir pantai di bawah pengawasan seorang staf vila.“Hm, iya, Mas,” jawab Ryn pelan.Kalau ditanya apakah Ryn sudah memaafkan suaminya, mungkin jawabannya iya.Ryn sud
Read more