Madeleine sama sekali tidak merasa tersinggung. Tanpa memperlambat langkah atau menoleh sedikit pun, ia membiarkan senyum tipis yang dingin terbentuk di sudut bibirnya."Terima kasih, Yang Mulia. Menyenangkan mengetahui kau bisa menghargai sesuatu yang memang berguna," ujarnya datar.Lucas terhenti. Ia menatap punggung Madeleine yang terus berjalan dengan bahu tegak, seolah kehadiran seorang pewaris di belakangnya tidak lebih dari angin lalu.Edwig dan Kael ikut membeku. Keduanya saling pandang, sama-sama sadar bahwa sesuatu baru saja dilangkahi.“Menghargai? Aku bahkan tidak memujinya," gumam Lucas.Rahangnya mengeras. Ia terbiasa menjadi penentu situasi, dan semua orang di bawah komandonya selalu menunggu sinyal sebelum bergerak. Namun, Madeleine tidak. Wanita itu berjalan menurut perhitungannya sendiri, mengabaikan protokol, dan tanpa sadar meruntuhkan kendali yang selama ini Lucas pegang.Ia menarik napas pendek, menekan gusarnya. Lalu melangkah lebih lebar, menyusul Madeleine yan
Baca selengkapnya