Punggung Kiran menegak sampai matanya membola lebar. “El, kamu ini sudah besar, ya. Bisa-bisanya minum obat susah sekali pakai segala macam alasan.”Bukannya marah mendengar omelan Kiran, senyum Elvano malah terangkat di bibirnya.“Mau ada aku atau tidak, tetap saja kamu harus minum obat. Ini demi kesehatanmu sendiri. Tidak usah ada alasan nggak bisa minum obat.” Kiran bicara dengan sangat cepat agar tidak dipotong Elvano.“Aku bisa minum obat, hanya saja aku tidak suka pahitnya.”“Di mana-mana namanya obat itu pahit, El. Kalau manis itu permen.” Kepala Kiran pening karena tingkah kekanak-kanakan Elvano.Menatap Kiran yang terus mengomel, senyum Elvano semakin terangkat lebar.“Kamu sangat mencemaskan kondisiku, hm?” Menyadari jarak antara Kiran dan Elvano yang mendadak begitu dekat, Kiran menelan ludah kasar dengan kedua pipi menghangat.“Ya … ya, cemas kalau kamu sakit terus, kerjaanmu nanti numpuk, yang repot juga siapa?” Kiran menelan ludah lagi setelah bicara, apalagi saat melih
Read more