Hujan turun dengan deras saat mereka tiba di sebuah dermaga nelayan yang terisolasi di pinggiran Banten. Aris telah menepati janjinya; sebuah kapal pesiar kecil bermesin ganda yang tampak usang di luar namun memiliki teknologi navigasi mutakhir di dalamnya, sudah menunggu di sana."Kita tidak bisa tinggal di Indonesia, Alya," ujar Ravien sembari mematikan mesin mobil. Ia menoleh ke kursi belakang, di mana Luca Malvino duduk membisu, menatap tangannya yang gemetar. Sementara itu, Marco Valente berada di mobil terpisah yang dikemudikan oleh anak buah kepercayaan Ravien yang tersisa.Alya turun dari mobil, membiarkan air hujan membasahi wajahnya yang kotor. Ia menatap laut yang gelap. "Ke mana kita pergi?""Singapura hanya persinggahan. Tujuan akhir kita adalah Zurich," jawab Ravien tegas. Ia mendekati Alya, menyampirkan jaket tebal di bahu wanita itu. "Brankas ibumu adalah satu-satunya alasan kita bisa tetap bernapas besok."Tiga jam setelah kapal meninggalkan perairan Indonesia, ketega
آخر تحديث : 2026-04-16 اقرأ المزيد