แชร์

Bab 24 - Reruntuhan Kerajaan Debu

ผู้เขียน: Creative Words
last update วันที่เผยแพร่: 2026-04-16 10:34:37

Kegelapan di dalam terowongan bawah tanah Gereja Tua itu terasa padat dan mencekam, hanya dipecahkan oleh pendar merah dari lampu darurat yang berkedip seiring dengan hitungan mundur Protokol Phoenix. Suara ledakan gas dari lantai atas gereja masih merambat melalui dinding-dinding batu tebal, mengirimkan debu dan kerikil yang jatuh ke rambut Alya.

Alya mendarat di lantai beton yang dingin dengan bahu yang menghantam rak besi. Rasa sakit menjalar dari kakinya yang terluka, namun ia segera bangki
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Menjadi Tawanan Hati Sang Mafia   Bab 33 - Identitas Yang Tersimpan

    Alya berdiri di tengah ruangan yang begitu luas, membiarkan kakinya tenggelam ke dalam karpet wol tebal yang terasa sangat empuk. Di kamar ini, tidak ada suara bising motor Jakarta atau bau asap yang menyengat. Hanya ada suara kayu yang sesekali berderak dari perapian dan aroma samar bunga lily segar yang diletakkan di atas meja marmer.Ia berjalan menuju lemari besar berbahan kayu ek yang sudah terisi penuh. Saat membukanya, Alya menemukan deretan gaun dari perancang busana ternama, mantel bulu, hingga setelan kantor yang dipotong dengan sangat presisi. Semuanya berwarna netral, hitam, krem, dan hijau zamrud. Warna-warna yang melambangkan kekayaan tua yang tenang, bukan kekayaan baru yang pamer."Semua pakaian itu sudah disesuaikan dengan ukuran tubuhmu," suara Ravien terdengar dari arah meja kerja di sudut kamar. Pria itu sedang duduk dengan laptop terbuka, wajahnya diterangi cahaya biru dari layar yang kontras dengan cahaya jingga perapian.Alya mengambil sebuah gaun sutra berwarna

  • Menjadi Tawanan Hati Sang Mafia   Bab 32 - Gerbang Salju

    Ban jet pribadi itu menyentuh landasan pacu Bandara Kloten, Zurich, dengan sentakan halus yang hampir tidak terasa. Alya membuka matanya perlahan, merasakan sisa kantuk yang berat setelah penerbangan panjang melintasi benua.Di luar jendela, langit Swiss tampak abu-abu menawan, sangat kontras dengan Jakarta yang selalu berkabut polusi. Di sini, segalanya terlihat bersih, teratur, dan sangat mahal.Ravien yang duduk di sampingnya sudah terjaga lebih dulu. Pria itu telah menanggalkan pakaian taktisnya; tidak ada lagi aroma mesiu atau debu pelabuhan. Ia kini mengenakan sweter turtleneck hitam dari kasmir yang dipadukan dengan mantel panjang berwarna abu-abu gelap. Penampilannya sangat berbeda, lebih mirip seorang pewaris tahta bisnis daripada seorang pembunuh bayaran."Kita sudah sampai, Elena," bisik Ravien. Suaranya terdengar lebih halus, menyesuaikan dengan identitas barunya sebagai Adrian Vance.Pintu pesawat terbuka, dan udara musim dingin Zurich langsung menyerbu masuk ke dalam kab

  • Menjadi Tawanan Hati Sang Mafia   Bab 31 - Penyatuan di Jalur Bayangan

    Kapal selam itu membelah arus dalam keheningan total. Di dalam kabin pribadi yang sempit, uap panas memenuhi ruangan kecil itu hingga pandangan menjadi kabur.Alya berdiri di bawah guyuran air pancuran, membiarkan aliran air menghapus noda merah yang mengering di kulitnya. Namun, air tidak bisa menghapus getaran di tangannya. Di balik matanya yang terpejam, ia masih melihat wajah Marco Valente yang tenggelam dan tawa gila Viktor Volkov.Tiba-tiba, pintu geser terbuka. Ravien melangkah masuk, membiarkan pakaian tempurnya yang sobek jatuh begitu saja di lantai. Tubuhnya yang atletis dipenuhi memar dan luka gores, namun matanya menatap Alya dengan intensitas yang sanggup membakar oksigen di ruangan itu.Tanpa kata, Ravien menarik Alya ke dalam dekapannya. Air panas mengguyur keduanya, menciptakan tirai yang transparan di antara mereka. Alya terisak kecil,

  • Menjadi Tawanan Hati Sang Mafia   Bab 30 - Jalur Tikus Menuju Alpen

    Sekoci itu terombang-ambing di tengah Laut Natuna yang luas, tampak seperti titik kecil di bawah rembulan yang mulai tertutup awan mendung. Di belakang mereka, sisa-sisa kapal kargo Volkov telah lenyap ditelan samudera, hanya menyisakan tumpahan oli yang berkilau hitam di permukaan air.Alya menyandarkan kepalanya di bahu Ravien yang kaku. Darah di bahu pria itu sudah mulai mengering, meninggalkan bau anyir yang bercampur dengan garam laut."Aris tidak akan bisa menjemput kita dengan helikopter polisi, Ravien," bisik Alya. "Seluruh unit Rendra pasti sedang memantau radar di area ini."Ravien meraba saku celana taktisnya, mengeluarkan sebuah peluncur sinyal frekuensi rendah yang berbentuk seperti koin. "Aris hanya jembatan hukum kita di darat. Tapi untuk urusan menghilang... ibuku sudah menyiapkan jalur ini sejak sepuluh tahun lalu. Dia menyebutnya

  • Menjadi Tawanan Hati Sang Mafia   Bab 29 - Neraka di Ruang Mesin

    Uap panas menyembur dari pipa-pipa yang pecah, menciptakan kabut putih yang menyesakkan di ruang mesin kapal kargo. Suara deru piston raksasa terdengar seperti detak jantung monster yang sedang sekarat. Di tengah kebisingan itu, napas Alya dan Ravien memburu, beradu dengan geraman rendah Viktor Volkov yang masih berdiri tegak meski tubuhnya telah dihujami luka.Viktor mengusap darah yang mengalir masuk ke matanya dengan punggung tangan. Ia membuang kapak taktisnya yang telah patah, lalu menarik sebuah rantai besi berat yang menjuntai dari langit-langit mesin."Kalian punya semangat," ujar Viktor, suaranya serak tertutup deru mesin. "Tapi semangat tidak bisa mengalahkan berat baja."Dengan satu sentakan kuat, Viktor mengayunkan rantai besi itu. WUSH! Rantai itu menghantam pipa di samping kepala Ravie

  • Menjadi Tawanan Hati Sang Mafia   Bab 28 - Kembalinya Sang Hantu

    Kapal pesiar itu miring hampir empat puluh lima derajat. Suara besi yang berderit karena tekanan air laut terdengar seperti rintihan kematian. Di dalam kabin yang mulai digenangi air setinggi lutut, Marco Valente menatap putrinya dengan mata yang dipenuhi ketakutan."Alya, bantu Papa! Jangan tinggalkan aku di sini!" ratap Marco, tangannya menggapai-gapai ke arah Alya sementara ia terjepit di antara sofa yang bergeser.Alya berdiri di ambang pintu kabin, air laut membasahi kakinya. Ia memegang kunci magnetik Phoenix di satu tangan dan Glock di tangan lainnya. Matanya tidak lagi menunjukkan kesedihan, hanya ada kekosongan yang sedingin dasar samudera."Sepuluh tahun lalu, kau membiarkan Mama terbakar karena kau lebih memilih emas Volkov," suara Alya terdengar tenang di tengah badai. "Dan sekarang, di tengah laut ini, kau m

  • Menjadi Tawanan Hati Sang Mafia   Bab 5 - Pelarian yang Mendebarkan

    Suara dentuman di pintu depan apartemen terdengar seperti guntur yang membelah langit. Bagi Alya, itu adalah lonceng kematian yang didentumkan tepat di telinganya.Dalam keremangan loteng yang dipenuhi debu mesiu, Alya merasakan jantungnya menghantam rusuk dengan ritme menyakitkan. Luka di bahunya

  • Menjadi Tawanan Hati Sang Mafia   Bab 4 - Hanya Kita Berdua

    Rasa sakit itu tidak datang dalam gelombang cepat. Ia merayap seperti api yang membakar saraf, menenggelamkan Alya ke dalam lautan trauma yang tak kunjung padam.Bibirnya yang pucat gemetar, jemarinya mencengkeram sprei hingga kuku-kukunya memutih. Dalam halusinasinya, ia kembali ke dermaga sepuluh

  • Menjadi Tawanan Hati Sang Mafia   Bab 3 - Selamat Datang di Neraka Kecil

    Alya terbangun di antara dinginnya dinding beton yang asing. Rasa sakit yang mencabik bahu kanannya terasa seperti api yang menjalar dari tulang selangka hingga ke ujung jari, memaksa matanya agar tetap terbuka dengan susah payah.Ia mendapati dirinya berada di sebuah loteng apartemen rahasia yang

  • Menjadi Tawanan Hati Sang Mafia   Bab 2 - Permusuhan Lama

    Mobil sport hitam itu membelah jalanan Jakarta yang basah oleh hujan, tapi tidak ada yang lebih dingin daripada atmosfer di dalam kabin.Ia tidak lagi menoleh ke belakang. Ia tahu, di persimpangan jalan tadi, mobil Ravien Malvino telah berbelok ke arah berlawanan, ke sarang musuh.Berita itu sudah

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status