"Kaisar!" Melihat ekspresi wajah Pak Baskoro dan Haris yang terlihat kaget, sudut bibir Kaisar tersungging. Ia terlihat sangat puas.Dengan santainya, Kaisar yang berbalik, beranjak dari duduknya dan menyapa Pak Baskoro. "Selamat pagi, Pak Baskoro. Ada yang bisa saya bantu?"Tubuh Pak Baskoro membeku. Otaknya ngelag seperti ponsel RAM 2 yang kapasitas pemakaiannya sudah penuh. Begitu pula dengan Haris, sedangkan Ferdi yang tidak mengetahui apa-apa, hanya bisa menatap bingung. "Ka-ka-kaisar, kamu!" tunjuk Haris pada Kaisar yang tersenyum tipis di hadapannya. "Kamu, kamu kok bisa ada di sini?" tanyanya. Seperti orang bodoh yang kurang akal, bisa-bisanya Haris menyebutkan pertanyaan konyol seperti itu. "Kenapa? Kalau aku di sini, ada yang salah?" tanya balik Kaisar, masih dengan bibirnya yang tersenyum. Pak Baskoro yang berdiri di samping asistennya, tampak termangu. Ia benar-benar tak menyangka jika pemimpin baru perusahaan raksasa itu adalah Kaisar, mantan calon adik iparnya dan
Ler mais