Amara menggelengkan kepalanya. “Nggak, Mas, aku—""Kamu pikir aku bodoh? Mana ada yang percaya cerita konyol kayak gitu! Lagian kenapa harus Adrian yang kamu suruh masuk pas aku nggak di rumah? Kalian ngapain di belakangku, hah? Pantesan ya, tiap malam ada aja alasannya, capek lah, apa lah. Ternyata kamu udah kenyang main sama sepupuku sendiri di ruang tamu ini!"Tuduhan itu telak. Seketika, rasa takut Amara menguap, berganti panas mendidih yang menjalar di dadanya. Saat aroma parfum wanita lain terendus dari baju Doni, sisa kesabaran dan rasa hormatnya pun musnah.Adrenalin yang membanjir mengubah insting bertahannya menjadi serangan liar. Tanpa sepatah kata pun, Amara menghentakkan kedua telapak tangannya ke dada Doni, mendorong suaminya itu sekuat tenaga.Dorongan fisik itu terjadi sangat tiba-tiba, membuat keseimbangan Doni goyah dan tubuhnya terhuyung mundur dua langkah ke belakang."Jaga mulut kamu, Mas!" teriak Amara. Suaranya melengking, memekakkan sunyi di rumah mewah itu.Na
Leer más