Adrian menjambak pangkal rambut Amara dari belakang dengan tarikan bertenaga, memaksa kepala wanita itu mendongak. Dia mengunci tatapan Amara melalui pantulan cermin, memastikan mata mereka saling bertemu."Buka mata Ibu lebar-lebar. Tatap wajah Ibu sendiri, lihat betapa Bu Amara sangat menikmati ini," bisik Adrian tepat di telinganya."Aku malu, Adrian... mukaku berantakan banget," rintih Amara sambil berusaha memalingkan pandangan. Dia merasa sangat terekspos melihat pantulan dirinya yang hancur di depan kaca."Ibu justru kelihatan sangat seksi malam ini," sahut Adrian dengan seringai tipis. "Lihat sendiri betapa liarnya penampilan seorang istri direktur saat sedang dikuasai seperti ini."Adrian menunjuk perut bawah Amara melalui pantulan kaca di depan mereka. "Lihat cairan Ibu yang membasahi paha itu, rahim Ibu seperti terus menagih milik saya untuk mengisinya, kan?""Iya, Adrian... rahimku memang terus memintamu," aku Amara jujur, rasa malunya telah sirna ditelan gairah. "Punya ka
Leer más