LOGIN"Bukan, Om. Justru saya yang harus minta maaf. Saya yang bodoh. Selama bertahun-tahun saya sudah sangat merepotkan Lena, menerima semua kebaikannya, tapi akhirnya... saya justru mengkhianati ketulusannya hanya karena silau dengan hal lain."Suasana mendadak hening. Hanya terdengar bunyi detak jantung dari monitor di samping ranjang. Lena menunduk, menyembunyikan genangan air di matanya yang mulai merembes jatuh ke atas sprei."Sudah, yang lalu biar berlalu," ujar Pak Himawan sambil meraih tangan Lena dan Aris, mencoba menyatukannya di atas pangkuan. Namun, Lena menarik tangannya lebih dulu—setelah bersentuhan dengan tangan Aris sebentar—untuk menyeka air mata. "Nasi sudah jadi bubur, seperti yang ada di depan kalian ini. Tapi bubur pun kalau bumbunya pas, tetap terasa nikmat, kan?" Pak Himawan menatap Aris dengan tatapan menguji, tapi tetap bersahabat. Aris menatap Lena dalam diam, tapi tak menjawab."Kamu masih sayang sama anak Om yang keras kepala ini?""Pak!" protes Lena segera,
Suara motor yang berhenti di depan pagar membuat Bu Ratna terbangun. Ia melongok dari balik gorden, mendapati putra tunggalnya melangkah masuk dengan bahu yang nampak merosot. Jarum jam di dinding ruang tamu menunjuk angka dua pagi."Dari mana, Ris? Kok baru pulang jam segini?" sapa Bu Ratna saat Aris baru saja menutup pintu depan. Suaranya serak khas orang bangun tidur, tapi matanya penuh selidik."Rumah sakit, Bu," jawab Aris pendek. Ia melepas sepatu dengan gerakan lambat, seolah bebannya berpindah ke kaki.Wajah Bu Ratna seketika pucat. Ia menghambur mendekati Aris, memutar tubuh anaknya itu ke kiri dan ke kanan. "Rumah sakit? Kamu kenapa? Mana yang luka? Ada yang sakit?"Aris menggeleng lemah, menepis pelan tangan ibunya. "Bukan aku, Bu. Bapaknya Lena yang pingsan. Mas Toto nggak bisa jemput Lena di bandara, jadi minta tolong aku, sekalian antar dia ke rumah sakit." Bu Ratna tertegun, tangannya menggantung di udara. "Pak Himawan kenapa? Sakit?""Sakit jantung, Bu. Tadi sempat ma
"Gimana keadaan Bapak saya, Dokter?" tanya Lena sambil melangkah mendekat, berdiri tepat di hadapan sang dokter."Kondisi Pak Himawan sudah melewati masa kritis. Jantungnya sudah merespons obat-obatan dengan baik. Beliau sudah jauh lebih baik, sudah bisa dipindahkan ke ruang perawatan dan kemungkinan besar akan segera siuman."Mendengar itu, bahu Lena yang semula tegang sedikit mengendur, tapi ia tetap menjaga postur tubuhnya. Tidak ada tangisan histeris lagi, hanya ada embusan napas panjang yang penuh dengan rasa syukur."Alhamdulillah. Terima kasih, Dok," jawab Lena tulus."Sama-sama. Setelah ini perawat akan mengurus perpindahan kamar. Anda bisa menemuinya setelah beliau dipindahkan," tambah dokter itu sebelum melangkah pergi.Lena berbalik menatap Toto dan Aris. Matanya yang merah karena tangis kini sudah kembali fokus."Mas Toto, tolong urus administrasi ke perawat. Ambil ruang VIP. Pastikan yang fasilitasnya paling lengkap. Aku nggak mau Bapak terganggu suara berisik.""Siap, Mb
"Bapak kamu... pingsan tadi siang, Len."Suasana Bandara Juanda yang riuh seketika terasa sunyi di telinga Lena. Kalimat Aris yang menggantung di udara barusan terasa seperti palu godam yang menghantam seluruh pertahanannya. Dunia di sekelilingnya seolah berputar, membuat tumpuannya goyah.Lena merasakan seluruh persendiannya meluruh. Lututnya melemas hingga ia hampir tersungkur ke lantai marmer yang dingin jika tangannya tidak segera mencengkeram tepian dinding dengan kencang. Napasnya memburu, sesak yang tadi ia rasakan di pesawat kini berubah menjadi cekikan yang nyata di tenggorokan."Len, tenang, Len..." Aris dengan sigap menyambar bahu Lena, mencoba menahannya agar tidak jatuh."Jangan sentuh!" desis Lena lemah, namun tenaganya tak cukup untuk benar-benar menepis tangan Aris. Isak tangis yang sejak tadi ia tahan akhirnya pecah juga. "Bapak kenapa, Mas? Bapak di mana sekarang?"Aris menuntun Lena duduk di bangku panjang area penjemputan, mengabaikan tatapan beberapa orang di seki
Sepanjang sisa perjalanan itu, Lena benar-benar tidak bisa mengenyahkan sosok Aris. Ingatannya terbang ke beberapa hari yang lalu, saat Bu Ratna sengaja meminta waktu untuk berbicara empat mata."Nak Lena, maafin ibu dan Aris. Kami sudah banyak merepotkanmu. Ibu selama ini meremehkan bantuanmu. Ibu benar-benar minta maaf. Tapi, boleh nggak Ibu minta kamu pertimbangkan lagi hubungan kalian? Aris nggak sepenuhnya salah. Dia cuma dijebak sama Santi," ujar wanita yang saat itu datang membawa kue buatannya, memberikannya secara cuma-cuma."Yang lalu sudah berlalu, Bu. Insya Allah sudah saya maafkan, tapi masalah kembali menjalin hubungan, sepertinya itu agak sulit, Bu. Lagi pula, saya sekarang fokus mengembangkan restoran. Kalau memang jodoh, semoga dimudahkan oleh Allah." Jawaban itu terdengar bijak, bahkan di telinga Lena sendiri. Namun tak bisa dimungkiri, ada secuil hatinya yang belum bisa memaafkan keadaan. Bagaimana dia direndahkan bau amis dan dicampakkan begitu saja."Mbak, ini pe
Hari terakhir di Thailand adalah ujian sesungguhnya bagi stamina dan dompet Anna. Begitu menginjakkan kaki di pusat oleh-oleh yang luasnya hampir menyamai gudang ikan Pak Himawan, mata Anna langsung berbinar-binar. Rasa lemas sisa demam kemarin lenyap tak berbekas, digantikan oleh hormon adrenalin yang meledak-ledak."Mbak, ini kain pantainya halus banget! Buat istri-istri orang gudang pasti seneng. Terus ini kaos 'I Love Bangkok', 'I Love Thailand', sama 'Welcome to Hat Yai' buat Mas Toto dan kawan-kawan. Gantungan kunci gajah ini lucu banget, Mbak! Borong ya?" tanya Anna tanpa menunggu jawaban, tangannya sudah sibuk menyambar barang-barang ke dalam keranjang.Tak puas dengan suvenir, Anna beralih ke deretan permen jeli warna-warni dan barisan botol bumbu instan. Ia berhenti di depan rak saus Tom Yum botol kaca."Pilih yang tutupnya merah, Ann. Katanya rasanya lebih tajam dan enak dibanding yang tutup putih," celetuk Lena sambil mengamati label komposisi di balik botol. "Tapi ya aku
POV Aris Pagi harinya, aku terbangun sebelum alarm berbunyi. Udara pagi yang biasanya membuatku ingin meringkuk lebih lama di bawah selimut, kini terasa seperti energi yang memompa jantungku. Aku segera menyambar sapu, membersihkan setiap sudut rumah yang biasanya kubiarkan berdebu kare
Restoran hari ini tidak ubahnya lautan manusia. Sejak dibuka pagi tadi, kursi-kursi di area teras hingga ruang utama Magdalena Seafood & Resto sudah terisi penuh. Kebisingan suara tawa, denting sendok, dan aroma bumbu saus padang yang khas memenuhi udara.Setiap Jumat, aku memang mengadakan program
POV Aris "Mohon maaf, berita yang mana ya, Pak?" Aku menunduk sedikit, bertanya dengan suara sedikit gemetar.Pak Himawan berdeham, suara beratnya membuat suasana ruangan terasa makin sempit. Beliau meletakkan cangkir tehnya, lalu menatapku lurus."Saya dengar dari ana
POV Aris "Wah, ini dia yang kita tunggu-tunggu. Akhirnya datang juga."Kepalaku refleks menoleh ke samping setelah finger print absen. Aku sudah menduga pagi ini tidak akan berjalan tenang, tapi aku tidak menyangka sambutannya akan secepat ini.Yayu—sepupu Santi—berdiri di sana dengan ponsel di ta







