Share

35. Runtuh

last update publish date: 2026-03-05 08:43:49

POV Lena

Aku berdiri mematung di balik kaca besar lantai dua restoran, tempat yang biasanya kugunakan untuk mengevaluasi kinerja karyawan. Tanganku masih memegang plastik berisi jilbab krem yang kini sudah tak layak pakai.

Meski sudah berganti pakaian dan membasuh wajah berkali-kali, aroma telur busuk itu seolah masih menempel di kulit, menusuk-nusuk indra penciumanku.

Di bawah sana, aku melihat sosok tegap berseragam cokelat itu melangkah pergi.

Mas Aris berjalan melewati pembatas jalan menuj
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ditolak Calon Mertua Karena Bukan PNS    40. Ugal-ugalan (2)

    Proses di kantor imigrasi tidak sedrama yang dibayangkan Anna. Berkat layanan percepatan yang sudah diatur, segalanya berjalan lancar. Lena dengan setia menemani asisten merangkap sahabatnya itu mengisi lembar demi lembar data. Ketakutan Anna soal wawancara yang sulit pun menguap begitu saja. Saat petugas menanyakan tujuan keberangkatan dan detail perjalanan, Anna cukup menunjukkan bukti reservasi paket wisata dari travel agen yang sudah dicetak Lena. Yang sedikit lama hanya sesi pengambilan sidik jari. Anna yang gugup sampai tangannya gemetar, harus mengulangnya berkali-kali."Gampang banget ya, Mbak. Kayak bikin SIM tembak. Pagi bikin, sore langsung bisa diambil," bisik Anna saat mereka melangkah keluar gedung imigrasi."Udah aku bilang, kan? Nggak usah banyak drama. Manut aja," sahut Lena santai sambil memakai kacamata hitamnya. "Ini udah selesai berarti ya, Mbak? Langsung pulang?" "Ngapain pulang?! Kita ke mall sekarang."

  • Ditolak Calon Mertua Karena Bukan PNS    39. Ugal-ugalan

    "Mbak, lain kali mbok ya kalau mau liburan ke luar negeri itu jangan dadakan begini! Ini bukan mau ke pasar kaget, lho, Mbak. Ini mau ke tiga negara!" omel Anna tanpa menoleh. Ia menyabet handuk dari kepalanya, mengucek rambutnya dengan gerakan kasar yang menunjukkan betapa gusarnya saraf-saraf di kepalanya pagi ini.Mess karyawan di belakang gudang ikan yang biasanya tenang, mendadak gaduh oleh suara gerutuan yang tak putus-putus. Wajahnya yang tampak sayu karena kurang tidur, tak menyurutkan kesibukannya yang mondar-mandir di antara tumpukan baju basah, memilah baju-baju dari lemari, dan mengisi koper ukuran sedang yang terbuka di atas kasur."Hmm."Lena, sang tersangka utama, justru terlihat sangat tenang. Ia hanya bergumam samar, duduk di lantai sambil menikmati bubur ayam hangat yang dibawanya tadi. Tidak ada raut bersalah sedikit pun, justru wajahnya terlihat jauh lebih segar dibandingkan kemarin."Mbak Lena, denger nggak sih? Dari tadi cuma ham hem, ham hem!" Anna berhenti di d

  • Ditolak Calon Mertua Karena Bukan PNS    38. Gebrakan Anak Orang Kaya (2)

    "Kamu lihat kapal itu," Pak Himawan menunjuk sebuah kapal kargo yang sedang bongkar muat. "Dia pernah dihantam badai, lambungnya lecet, mesinnya mungkin pernah mati. Bukan cuma sekali atau dua kali, bisa jadi puluhan kali. Tapi bukti nyatanya, dia ndak pernah tenggelam. Dia tetap berlayar setelah diperbaiki."Lena mengikuti arah pandang ayahnya, membiarkan ujung jilbab pasmina hitam di punggung beterbangan tertiup angin malam. "Memaafkan itu untuk ketenanganmu, Nak, tapi kembali mempercayai itu soal kualifikasi Aris. Kamu bukan lagi anak kecil yang bisa luluh karena sesuap makanan. Kamu wanita yang punya kendali atas hidupmu sendiri. Jangan biarkan orang masuk ke rumahmu hanya karena kamu kasihan. Ambil atau hempaskan, kamulah yang menentukan."Lena menarik napas panjang. Setiap nasihat Pak Himawan selalu menjadi sandaran dalam kebimbangan."Lena nggak mau gegabah, Pak. Rasanya terlalu mudah kalau baru berubah sedikit, langsung dikasih kesempatan

  • Ditolak Calon Mertua Karena Bukan PNS    37. Gebrakan Anak Orang Kaya

    Lena melajukan motor matiknya membelah angin malam, membiarkan dingin menyusup di sela-sela jaketnya. Ia berhenti tepat di ujung dermaga, tempat kapal-kapal besi raksasa bersandar. Bangkai besi itu tampak megah dengan panjang puluhan meter. Pemandangan yang biasa bagi Lena sejak kecil, membawa momen dejavu saat dirinya sering menyusul Bapak bekerja di sini.Namun setelah dewasa, Lena lebih suka memandang lautan lepas seperti saat ini. Ia tepekur dalam waktu yang lama, memandang lampu-lampu kecil—yang berkelap-kelip seperti kunang-kunang di atas air hitam yang tenang—di kejauhan. Itu kapal-kapal nelayan. Mereka sedang mengadu peruntungan di atas gulungan ombak yang tak menentu."Di luar sana, ada orang-orang yang mempertaruhkan nyawa demi sesuap nasi di rumah. Sementara aku? Aku oleng cuma karena urusan perasaan yang belum tentu jadi jaminan masa depan," bisiknya getir. Lena menyadari bahwa egonya terlalu besar jika terus meratapi luka, sementara semesta menyuguhkan perjuangan hidup y

  • Ditolak Calon Mertua Karena Bukan PNS    36. Runtuh (2)

    "Pesanan nomor tiga belas," ucapnya lirih, sedikit serak, sambil menunjukkan layar ponselnya ke arahku. Benda pipih itu menjadi salah satu tanda cintaku untuknya."Len. Ehm, Mbak Lena." "Ah, oh, iya." Aku tersentak, mendapati tangan Mas Aris bergerak-gerak di depan wajahku, menyadarkan dari lamunan singkat yang tidak bisa kusangkal."Pesanannya masih diproses koki. Tunggu sebentar, Mas. Duduk dulu," jawabku kaku, berusaha membuang muka.Sialnya, tidak ada Anna atau Mas Toto di sini yang bisa menemaninya berbincang. Mereka pergi ke gudang ikan di jalan Sudirman karena ada bongkar muat ikan yang baru datang dari pelabuhan. Situasi semakin canggung karena tidak ada pelanggan lain. Benar-benar hanya kami berdua. Aku tidak ingin terlihat tidak sopan atau menyimpan dendam yang kekanak-kanakan. Tanpa diminta, aku menuangkan segelas teh dari dispenser di sudut ruangan, menambahkan bongkah es, dan menyerahkannya. "Minum dulu,

  • Ditolak Calon Mertua Karena Bukan PNS    35. Runtuh

    POV Lena Aku berdiri mematung di balik kaca besar lantai dua restoran, tempat yang biasanya kugunakan untuk mengevaluasi kinerja karyawan. Tanganku masih memegang plastik berisi jilbab krem yang kini sudah tak layak pakai.Meski sudah berganti pakaian dan membasuh wajah berkali-kali, aroma telur busuk itu seolah masih menempel di kulit, menusuk-nusuk indra penciumanku.Di bawah sana, aku melihat sosok tegap berseragam cokelat itu melangkah pergi.Mas Aris berjalan melewati pembatas jalan menuju kantor kecamatan tanpa menoleh lagi. Bahunya yang dulu sering ikut berguncang saat tertawa denganku, kini terlihat sedikit merosot, seolah memikul beban yang sangat berat."Mbak Lena...." Suara Anna membuatku sedikit tersentak. Aku tidak berbalik, mataku tetap terpaku pada pintu masuk kantor kecamatan yang baru saja "menelan" sosok mantan pacarku."Mas Aris sudah pergi, Mbak. Tadi dia yang bersihkan lantai di bawah. Mas Toto sudah melarang, tapi dia maksa," lapor Anna. Ia melangkah mendekat, b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status