Share

31. Masih Ada Rasa

Penulis: Hanazawa Easzy
last update Tanggal publikasi: 2026-03-01 10:34:20

Restoran hari ini tidak ubahnya lautan manusia. Sejak dibuka pagi tadi, kursi-kursi di area teras hingga ruang utama Magdalena Seafood & Resto sudah terisi penuh. Kebisingan suara tawa, denting sendok, dan aroma bumbu saus padang yang khas memenuhi udara.

Setiap Jumat, aku memang mengadakan program "Jumat Berkah". Aku tidak ingin Magdalena hanya menjadi tempat makan bagi mereka yang berkantong tebal, tapi juga rumah bagi siapa pun yang ingin merasakan nikmatnya hasil laut tanpa harus mencemaska
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Ditolak Calon Mertua Karena Bukan PNS    57. Kesempatan Kedua (Tamat)

    Bab 33 Semburat jingga di ufuk barat mulai menyapa, namun suasana di meja pojok belakang kedai Magdalena Seafood and Resto terasa begitu dingin. Mas Toto duduk dengan punggung tegak, sementara Aris baru saja meletakkan helmnya dengan tangan sedikit gemetar. "Mas Aris, terima kasih sudah datang," buka Mas Toto tanpa basa-basi. "Sama-sama, Mas Toto. Kebetulan saya juga ingin bertanya soal tuntutan hukum pada Sinta. Apa itu perintah Lena?" Mas Toto menggeleng pelan, sebuah senyum tipis tersungging di bibirnya yang mulai keriput. "Bukan. Mbak Lena itu hatinya terlalu lembut untuk memenjarakan orang, meskipun dia sangat marah. Yang melaporkan Sinta ke polisi itu... Pak Himawan sendiri." Aris tertegun. "Om Himawan?" "Benar. Bapak tidak terima putri semata wayangnya dipermalukan seperti itu. Beliau ingin memberi pelajaran bahwa setiap perbuatan ada konsekuensinya. Jadi, kalau Mas Aris mau minta Lena cabut laporan, itu salah alamat. Keputusan ada di tangan Bapak." Aris terdiam, lidahnya

  • Ditolak Calon Mertua Karena Bukan PNS    56. Tolong Sinta, Nak!

    Aris memarkir motornya dengan tergesa di halaman kantor kelurahan. Napasnya masih sedikit memburu sisa perjalanan dari rumah sakit. Namun, langkahnya mendadak terkunci saat melihat dua sosok yang sangat familiar duduk di kursi tunggu panjang depan lobi.Orang tua Sinta.Wajah mereka nampak sangat kuyu, mata mereka sembab, dan sang ibu terus meremas sapu tangan yang sudah basah. Begitu melihat sosok Aris, ayah Sinta langsung berdiri dengan tumpuan yang goyah."Nak Aris!" seru pria paruh baya itu dengan suara serak.Aris menghampiri mereka dengan dahi berkerut. "Lho, Bapak, Ibu? Ada apa pagi-pagi sudah di sini?" Ibu Sinta tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru histeris, langsung meraih tangan Aris dan menggenggamnya erat, seolah pria itu adalah satu-satunya pelampung di tengah badai."Nak Aris, tolong... tolong Sinta, Nak. Ibu mohon, bantu Sinta keluar dari sana. Dia tidak kuat, Nak. Dia ketakutan," tangis Ibu Sinta pecah, mengundang perhatian beberapa staf kelurahan yang mulai be

  • Ditolak Calon Mertua Karena Bukan PNS    55. Nikah Kontrak Aja!

    "Ternyata Mbak Lena di sini. Kirain ke mana, dicariin sampai ke kantin nggak ada."Lena tidak menoleh. Ia tetap bergeming di tepian pagar pembatas atap rumah sakit, membiarkan angin pagi yang cukup kencang memainkan ujung jilbab hitamnya. Matanya tertuju lurus ke bawah, ke arah area parkir di mana sebuah motor baru saja melaju meninggalkan gerbang rumah sakit. Ia tahu itu Aris."Mbak? Malah bengong," Anna menyandarkan punggungnya di pagar yang sama, ikut memandang ke arah yang sama dengan Lena."Nggak apa-apa, Ann. Cuma mau cari oksigen yang nggak bau karbol," sahut Lena datar. Tatapannya masih kosong.Anna terdiam sejenak, memperhatikan profil samping wajah bosnya yang rahangnya tampak kaku. "Bapak ngomong apa tadi, Mbak? Sampai Mas Aris keluar mukanya kayak orang habis menang lotre. Seneng tapi bingung cara nyairinnya."Lena akhirnya menoleh, menatap Anna dengan sisa-sisa mata sembapnya."Eh, kok mata Mbak merah? Habis nangis? Atau jangan-jangan ... Bapak minta Mbak balikan sama ma

  • Ditolak Calon Mertua Karena Bukan PNS    54. Permintaan Terakhir Bapak(2)

    "Bukan, Om. Justru saya yang harus minta maaf. Saya yang bodoh. Selama bertahun-tahun saya sudah sangat merepotkan Lena, menerima semua kebaikannya, tapi akhirnya... saya justru mengkhianati ketulusannya hanya karena silau dengan hal lain."Suasana mendadak hening. Hanya terdengar bunyi detak jantung dari monitor di samping ranjang. Lena menunduk, menyembunyikan genangan air di matanya yang mulai merembes jatuh ke atas sprei."Sudah, yang lalu biar berlalu," ujar Pak Himawan sambil meraih tangan Lena dan Aris, mencoba menyatukannya di atas pangkuan. Namun, Lena menarik tangannya lebih dulu—setelah bersentuhan dengan tangan Aris sebentar—untuk menyeka air mata. "Nasi sudah jadi bubur, seperti yang ada di depan kalian ini. Tapi bubur pun kalau bumbunya pas, tetap terasa nikmat, kan?" Pak Himawan menatap Aris dengan tatapan menguji, tapi tetap bersahabat. Aris menatap Lena dalam diam, tapi tak menjawab."Kamu masih sayang sama anak Om yang keras kepala ini?""Pak!" protes Lena segera,

  • Ditolak Calon Mertua Karena Bukan PNS    53. Permintaan Terakhir Bapak

    Suara motor yang berhenti di depan pagar membuat Bu Ratna terbangun. Ia melongok dari balik gorden, mendapati putra tunggalnya melangkah masuk dengan bahu yang nampak merosot. Jarum jam di dinding ruang tamu menunjuk angka dua pagi."Dari mana, Ris? Kok baru pulang jam segini?" sapa Bu Ratna saat Aris baru saja menutup pintu depan. Suaranya serak khas orang bangun tidur, tapi matanya penuh selidik."Rumah sakit, Bu," jawab Aris pendek. Ia melepas sepatu dengan gerakan lambat, seolah bebannya berpindah ke kaki.Wajah Bu Ratna seketika pucat. Ia menghambur mendekati Aris, memutar tubuh anaknya itu ke kiri dan ke kanan. "Rumah sakit? Kamu kenapa? Mana yang luka? Ada yang sakit?"Aris menggeleng lemah, menepis pelan tangan ibunya. "Bukan aku, Bu. Bapaknya Lena yang pingsan. Mas Toto nggak bisa jemput Lena di bandara, jadi minta tolong aku, sekalian antar dia ke rumah sakit." Bu Ratna tertegun, tangannya menggantung di udara. "Pak Himawan kenapa? Sakit?""Sakit jantung, Bu. Tadi sempat ma

  • Ditolak Calon Mertua Karena Bukan PNS    52. Bukan Siapa-siapa (2)

    "Gimana keadaan Bapak saya, Dokter?" tanya Lena sambil melangkah mendekat, berdiri tepat di hadapan sang dokter."Kondisi Pak Himawan sudah melewati masa kritis. Jantungnya sudah merespons obat-obatan dengan baik. Beliau sudah jauh lebih baik, sudah bisa dipindahkan ke ruang perawatan dan kemungkinan besar akan segera siuman."Mendengar itu, bahu Lena yang semula tegang sedikit mengendur, tapi ia tetap menjaga postur tubuhnya. Tidak ada tangisan histeris lagi, hanya ada embusan napas panjang yang penuh dengan rasa syukur."Alhamdulillah. Terima kasih, Dok," jawab Lena tulus."Sama-sama. Setelah ini perawat akan mengurus perpindahan kamar. Anda bisa menemuinya setelah beliau dipindahkan," tambah dokter itu sebelum melangkah pergi.Lena berbalik menatap Toto dan Aris. Matanya yang merah karena tangis kini sudah kembali fokus."Mas Toto, tolong urus administrasi ke perawat. Ambil ruang VIP. Pastikan yang fasilitasnya paling lengkap. Aku nggak mau Bapak terganggu suara berisik.""Siap, Mb

  • Ditolak Calon Mertua Karena Bukan PNS    38. Gebrakan Anak Orang Kaya (2)

    "Kamu lihat kapal itu," Pak Himawan menunjuk sebuah kapal kargo yang sedang bongkar muat. "Dia pernah dihantam badai, lambungnya lecet, mesinnya mungkin pernah mati. Bukan cuma sekali atau dua kali, bisa jadi puluhan kali. Tapi bukti nyatanya, dia ndak pernah tenggelam. Dia tetap berlayar setelah

  • Ditolak Calon Mertua Karena Bukan PNS    37. Gebrakan Anak Orang Kaya

    Lena melajukan motor matiknya membelah angin malam, membiarkan dingin menyusup di sela-sela jaketnya. Ia berhenti tepat di ujung dermaga, tempat kapal-kapal besi raksasa bersandar. Bangkai besi itu tampak megah dengan panjang puluhan meter. Pemandangan yang biasa bagi Lena sejak kecil, membawa mome

  • Ditolak Calon Mertua Karena Bukan PNS    36. Runtuh (2)

    "Pesanan nomor tiga belas," ucapnya lirih, sedikit serak, sambil menunjukkan layar ponselnya ke arahku. Benda pipih itu menjadi salah satu tanda cintaku untuknya."Len. Ehm, Mbak Lena." "Ah, oh, iya." Aku tersentak, mendapati tangan Mas Aris bergerak-gerak di depan wajahku, men

  • Ditolak Calon Mertua Karena Bukan PNS    33. Bikin Onar

    POV Aris "Yah, telat kita, Ris! Harusnya tadi kita ambil saf paling belakang. Jadi begitu selesai salam, bisa langsung nyerbu nasi kotak gratis," gerutu Mas Bondan sambil menepuk-nepuk perutnya yang keroncongan. "Belum rezeki kita, Mas." Aku terkekeh sambil menyampirkan sajadah di bahu. "Tapi l

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status