Isabella terkesiap ketika membuka matanya, Alex sudah berdiri di hadapannya menjulang tinggi. Aura pria itu terlihat dingin, memancarkan emosi yang sepertinya akan meledak dalam hitungan waktu.Satu detik, dua detik, tiga detik berlalu.“Kau? Apa yang kau lakukan, Isabella?!” tanya Alex. Suaranya tidak meledak marah, melainkan bergetar.“Pangeran Alex, maafkan aku, … aku bawa Apollo. Dan … dia terluka,” ucap Isabella mengangkat mata, melawan rasa takut dan khawatir dalam hatinya. Ia sudah siap andai kata mendapat bentakan atau hukuman dari pria di depannya.Alex mendengus pelan menatap Isabella. Namun, anehnya, ia tidak bisa marah. Ia menatap langsung ke dalam manik mata Isabella. “Apollo adalah prajurit, dia dilatih untuk terluka. Tapi kau...” Alex mengusap punggung tangan istrinya yang memerah dengan ibu jarinya. “Kau adalah sesuatu yang harus kulindungi.” Isabella mengerjap ketika mendapat sentuhan tiba-tiba dari sang pangeran. “Kau terluka?” Pria itu menyisir pakaian yang dikena
Read more