Suasana mendadak hening seketika. Beberapa detik berlalu tetapi Hanna memilih bungkam seribu bahasa. Namun, ketika Isabella hendak bertanya lagi, suara tawa hambar pecah dari bibir wanita itu. Matanya sampai berkaca-kaca akibat tawa kosong itu. “Dengar baik-baik, Duchess yang jenius,” desis Hanna, wajahnya maju mendekati jeruji besi, memotong jarak di antara mereka. Ia menjeda kalimatnya, seolah sedang menyusun kalimat yang tepat di kepalanya. Sementara itu Isabella menatapnya intens, tak sabar menunggu sebuah the ultimate truth, kebenaran akhir dari kebenaran itu sendiri.“Aku meledakkan pelabuhan itu karena keinginanku sendiri! Aku sudah merencanakan kehancuran Royal Ashmond sejak hari di mana ayahku dihukum atas tuduhan korupsi palsu oleh kerajaan sialan ini! Aku memanfaatkan kebodohan Victor yang serakah, dan aku memanfaatkan Daisy si pengkhianat untuk memuluskan rencanaku. Tidak ada orang lain. Akulah sang dalang tunggal.” Jawabnya dengan sorot mata yang gelap. Sangat kontras de
Read more