“Kau sudah bangun? Syukurlah, aku lega. Isabella sudah baik sekali, tadi dia yang merawatmu, Alex,” bisik Helena dengan suara selembut beledu dan sentuhan selembut sutra. Tangannya bergerak menyentuh dahinya, memastikan demamnya sudah turun atau belum. Oh, ralat, ia mencoba mengklaim wilayahnya yang tadi dipegang-pegang Isabella.Sore itu, ketika Cecilia dan Isabella pergi dari ruangan itu, Helena memaksa masuk ingin merawatnya. Alex mendengus pelan. Ia menyingkirkan tangan Helena dengan perlahan. Ia masih marah pada wanita berambut pirang di sisinya. “Di mana Isabella?”Helena menahan napas mendengar Alex justru menanyakan istri pertamanya. Rasanya kebencian pada wanita itu berkali-kali lipat.Namun, ia pandai menyembunyikan emosinya. “Isabella kembali ke paviliun Alex. Dia bilang, Alex kan sudah ditangani Tabib jadi tugasnya sudah selesai. Dia sepertinya buru-buru ingin pergi.”Alex hanya diam. Kemudian ia berusaha bangkit, duduk dan ingin turun dari ranjang.Tangan Helena langsung
Read more