“Bella, kau kenapa, Sayang?” suara Alex rendah dan terdengar risau. Ia memijat leher istrinya dengan lembut. Isabella menjawab lemah. “Aku tidak tahu.”Di kamar mandi, Alex membantunya berdiri kemudian memapahnya ke kamar, mendudukkannya di tepi ranjang. Tak lama kemudian ia mengambil air putih yang tergolek di atas meja nakas. “Minumlah,” ucapnya sembari mengangsurkan gelas itu ke bibir istrinya. Glek, glek, glek.Perlahan Isabella meneguk air minum itu dengan hati-hati. Dengan meminum air putih setidaknya bisa meredam rasa pahit di lidahnya setelah mengeluarkan seluruh isi makanan di dalam lambungnya yang membuatnya tidak nyaman. “Kau berpakaian dulu yang benar. Aku akan panggilkan tabib,” ucap Alex, mengenyahkan bokongnya di tepi ranjang. Tangannya terulur mengusap lembut pipinya yang mulai berisi. Isabella menangkap tangannya, matanya lurus tertuju pada suaminya. “Pergilah! Saat ini kau memiliki tugas penting kerajaan. Aku baik-baik saja. Mungkin aku hanya kecapean,” jawabnya
Read more