Alex melangkah masuk ke kamar Helena tanpa mengetuk, sebuah kebiasaan yang dulu sering Helena sukai, tetapi kini terasa seperti sesuatu yang menakutkan.“Tabib Leo bilang kau demam tinggi, Helena. Mengapa kau masih duduk di dekat jendela saat udara sedingin ini?” Alex melangkah mendekat, tetapi Helena dengan gerakan refleks yang tajam, langsung menarik diri ke balik tirai tempat tidur.“Jangan mendekat,” suara Helena rendah, frustrasi. Alex menghentikan langkahnya. Ia mengerutkan kening, merasa ada atmosfer yang aneh di udara. Ada apa dengan istri pertamanya itu?Biasanya dia selalu antusias setiap kali dia datangi. Aneh!Alex mencoba memanjangkan sumbu kesabaran. Ia berusaha tenang. “Helena, aku tidak ingin bertengkar. Mungkin kau marah karena posisimu diganti Isabella atau kau punya beban sendiri yang kau simpan—”“Berhenti menyebut namanya,” potong Helena. Kepalanya terasa berat, dan bayangan wajah Felix saat memeluknya semalam kembali menari-nari, membuatnya merasa mual.Helena m
Read more