“Aku baik-baik saja,” jawab Helena pelan, tetapi suaranya terdengar jauh lebih berat dari biasanya.Yolanda, yang sejak tadi memerhatikan sahabat sefrekuensinya itu, menyipitkan mata. Semakin lama diamati, semakin jelas Helena tampak berbeda hari itu. Ada gurat kelelahan yang tak mampu disembunyikan di wajahnya.Wajah cantiknya yang biasanya begitu segar dan bercahaya kini terlihat pucat, seolah seluruh energinya telah terkuras. Bahkan polesan riasan tipis pun gagal menutupi kesan itu. Rasanya seperti... darahnya baru saja diisap vampir semalaman.“Kau begadang melukis?” tanya Yolanda, menebak-nebak penyebab perubahan itu.Seolah mendapat alasan yang tepat, Helena spontan mengangguk. Ia tersenyum kaku. “Benar, ya, aku menghabiskan malam dengan melukis,”Padahal dalam batin ia tengah bermonolog jahat. ‘Aku sedang melukis takdir seseorang. Takdir kelam Isabella Laurent.’“Hei, kau itu cerdas dan pandai melukis tidak diragukan lagi.” Timpal salah seorang bangsawan wanita yang ikut menger
Read more