"Tuan Leon, bangun! Hiks... kumohon bangun! Jangan tinggalkan aku!" jerit Rosella semakin histeris. Dia menjatuhkan wajahnya di atas dada Leon, menangis tersedu-sedu hingga air matanya membasahi kain baju pasien yang dikenakan pria itu."Maafkan aku, Tuan... maaf karena aku sudah bodoh dan meragukanmu. Aku tidak akan pernah mengabaikanmu lagi. Aku berjanji! Jadi kumohon, buka matamu..." bisik Rosella di sela isak tangisnya yang memilukan. Dia mendekap tubuh kaku itu dengan erat, merasa dunianya benar-benar runtuh jika Leon pergi selamanya.Namun, di tengah-tengah tangisan histeris Rosella yang memilukan itu, suara grafik monitor jantung di samping brankar yang semula berbunyi lemah secara konstan, tiba-tiba berubah ritme menjadi detak yang sangat normal dan stabil.Bersamaan dengan itu, Rosella merasakan sebuah tangan besar yang terasa hangat perlahan bergerak, lalu mendarat lembut di atas kepalanya, mengelus rambutnya yang berantakan dengan sangat pelan."Janji, ya? Jangan mengab
Last Updated : 2026-06-08 Read more