Suara mesin berdesis pelan, memecah keheningan di dasar jurang.Ardi tersentak. Tubuhnya setengah menggantung, tertahan oleh sabuk pengaman. Nyeri itu kembali menghantamnya. Dia hanya bisa mengerang, begitu pelan dan sia-sia.Semerbak bau bensin mulai menusuk hidungnya. Mobil ini akan meledak, Ardi tahu itu. Namun, dia terlalu lemah, bahkan untuk membuka sabuk pengaman.Pandangannya kembali kabur. Sekelebat bayangan kedua orang tua muncul.“Mama… Papa…” Ardi merintih. Wajah Intan yang tersenyum manis juga hinggap di benaknya, seolah menyambutnya untuk bergabung. Satu sudut bibir Ardi menyungging. Mungkin, ini saat yang tepat untuk menyusul mereka.“Tunggu aku…” Ardi meracau. Matanya perlahan terpejam. Namun, tiba-tiba sosok Naya hadir, seolah keluar dari salah satu kotak memori di otaknya.Kecemasan membingkai wajah perempuan itu. Bibir merahnya bergerak-gerak, memohon Ardi kembali.“Tolong, Ardi… bertahanlah, Sayang… demi kita, demi anak kita…” suara Naya mengalun pelan di telinganya
Read more