“Naya, sudah Mama bilang, jangan banyak bergerak!” Kedua mata Sophia melotot tajam begitu Naya beringsut untuk mengambil remote tivi.Astaga, sedari tadi ibu mertuanya ini terus saja mengoceh. Naya tahu dia harus bedrest selama dua minggu di sini, tetapi bukan berarti dia tak boleh bergerak sama sekali. Apalagi ponselnya disita Arman, jadi dia benar-benar bosan!“Kalau sedang tak ada Mama, kamu harus hubungi perawat. Ingat itu,” tandas Sophia lagi, mengambilkan remote itu untuk Naya.“Baik, Ma. Trims…” Naya mulai menyalakan televisi.“Dokter bilang kamu anemia, tekanan darahmu juga rendah. Seharusnya kalau sedang program hamil kamu menjaga tubuhmu, Nay,” Sophia mulai mengomelinya lagi. “Ini adalah anak pertama kalian, putra pewaris pertama Keluarga Kartajaya.”“Kenapa Mama yakin banget kalau aku bakal melahirkan anak laki-laki?” Naya melirik ibu mertuanya sekilas. Wajah Sophia nampak berbinar saat membicarakan calon cucunya.“Yah, itu hanya harapan Mama saja sih. Memang lebih baik kal
Read more