Kilatan cahaya kamera itu membuat mata Rahmat Kartajaya sedikit berkunang-kunang. Di sampingnya, berdiri putra kesayangannya sekaligus satu-satunya, Arman Kartajaya.Mereka berdiri berdampingan dengan senyum mengembang, begitu gagah dan berwibawa.“Oke, sekali lagi… satu, dua, tiga!” Titah fotografer itu sambil menjepret film terakhirnya.Tiba-tiba saja Rahmat kepikiran untuk mengambil foto berdua dengan putranya yang akan menggantikan foto lama mereka di ruang kerja Rahmat Kartajaya.Saat akhirnya foto mereka jadi, Rahmat memperhatikan foto itu dengan bangga.Pria setengah baya itu memperhatikan wajah Arman. Hidung besar pria itu… sepasang mata hitamnya… serta rahangnya yang keras dan tinggi.Semua orang memuji Arman mirip dengannya. Dan tak ada jejak Haryanto di wajah putranya, itulah yang dia yakini selama ini.“Papa,” suara Arman membuyarkan lamunannya. Arman lantas berdiri di samping Rahmat, sama-sama memandangi foto mereka.“Sepertinya keputusan yang tepat kita mengambil foto be
Read more