Tangan Dalia mendadak gemetar saat mencengkram setirnya. “Gi-Gimana nih, Nay?” Tanyanya terbata sambil mengarahkan mobilnya ke depan teras.“Kurasa dia tak akan mengecekku di kamar,” balas Naya. “Mudah-mudahan saja…” Dia sendiri terdengar tak yakin.“Kalau Arman memergoki kita, gimana? Maksudnya, aku harus bilang apa?” Tanya Dalia lagi dengan gugup.Naya menghela napas berat. “Sebaiknya jangan sampai ketahuan.”“Duh, kenapa kita jadi sial begini sih?” Dalia memukul dahinya pelan. “Kalau sampai terjadi apa-apa padamu, aku bakal merasa bersalah seumur hidup!”“Sudahlah, tak akan terjadi apa-apa padaku. Memangnya Arman mau berbuat apa?” Sahut Naya dari jok belakang, walaupun sebenarnya dia juga dirundung ketakutan.Kemungkinan Arman melakukan hal-hal buruk padanya sangat mungkin terjadi. Bisa saja Arman memukulnya, atau mengurungnya di mansion ini dengan pengawalan super ketat.“Begini rencananya,” tukas Naya. “Aku turun duluan, nanti kamu menyusul, oke? Kalau ada apa-apa aku bakal menel
Read more