“Dasar tak becus,” Arman melempar alat pompa asi itu ke atas nakas dengan kasar.Sementara Naya hanya bisa tertunduk lesu. Sedari tadi dia menahan tangis.“Kamu tak peduli dengan anakmu, hah? Sedari lahir, dia bahkan belum mencicipi yang nama asi padahal asi itu hak anak, Naya,” ucap Arman dengan nada tinggi. “Apa susahnya sih mengeluarkan asi dari tubuhmu itu?!”Naya menggigit bibirnya. “Dokter dan perawat bilang jangan stres! Apa sih yang kamu pikirkan? Kamu dirawat di ruang VIP, semua fasilitas tersedia! Bahkan kamu diberikan kesempatan hidup untuk melihat anakmu, tapi hanya ini yang bisa kamu lakukan, berbaring tak berguna di atas ranjang?” Arman berdecak heran.“Aku juga ingin memberikan yang terbaik bagi anakku,” akhirnya Naya mampu berujar walaupun suaranya terdengar begitu serak, “tetapi…”“Tapi apa?” Tantang Arman. “Memang dasarnya kamu pemalas, tak mau berusaha lebih demi Haryasena!”Naya tak kuasa lagi membendung air matanya. Kini dia terisak di atas ranjang.“Menangis tak
Read more