Seketika ruangan mendadak senyap, hanya ada ketegangan yang menguar di antara kedua lelaki setengah baya itu.“Apa katamu?” Ulang Rahmat tajam. Dia masih menatap Haryanto dengan begitu sengit. “Aku ingin bertemu putraku, darah dagingku satu-satunya, Arman,” ulangnya tanpa ragu.“Sampai kapanpun, hal itu tak akan pernah terjadi,” balas Rahmat. “Dan perlu kamu ingat, Arman bukan putramu. Dia putraku.”Haryanto menyeringai tipis. “Kamu sudah memfitnahku, Rahmat, membuatku menderita. Sekarang, di penghujung hidupku, aku hanya ingin bertemu dengan anakku itu saja. Aku ingin dia tahu kalau aku adalah ayah kandungnya. Toh pada akhirnya, kebenaran harus terungkap.”Napas Haryanto tertahan saat Rahmat tiba-tiba menggebrak meja. Beberapa piring dan gelas bahkan sampai berdenting karena hantaman yang cukup kuat itu.“Itu tak akan terjadi!” Wajah Rahmat kini memerah karena amarah. “Sampai kiamat pun, Arman adalah anakku, keturunan Kartajaya yang terhormat!”“Kenyataan bukan seperti itu,” balas H
Read more