“Sepertinya agak sedikit sulit menggoda pria itu, Tuan,” Nirma berujar sambil menghidangkan kopi di depan Arman.“Sulit? Bukannya kamu begitu percaya diri sewaktu menerima penawaran ini?” Tanya Arman sambil memperhatikan layar ponselnya.Nirma menaruh beberapa potongan cake di atas meja. “Itu karena dia sudah punya pacar.”“Pacar?” Ulang Arman, menengadahkan dagunya, menatap Nirma yang sedang mengatur piring-piring kecil itu.“Iya, dan sepertinya dia tipe yang setia,” Nirma berdiri sambil mendekap nampan di dadanya.“Jadi, kamu menyerah begitu saja?” Tantang Arman, meraih cangkir di dekatnya.“Tentu saja tidak. Aku yakin, dengan pesonaku ini, lambat laun dia akan jatuh ke pelukanku,” desis Nirma dengan yakin.“Sebaiknya begitu. Karena kalau kamu menyerah, artinya semuanya sia-sia. Kamu tak akan mendapat uang sepeserpun dariku. Begitu kesepakatannya,” Arman menyeruput kopinya.“Aku tahu.” Balas Nirma singkat. Baginya sekarang, ini bukan lagi soal uang, tapi soal egonya. Sebagai salah s
Read more