Malam semakin larut, tetapi rumah itu tidak benar-benar terlelap.Lampu di lorong tetap menyala redup, menciptakan bayangan panjang di sepanjang dinding. Keheningan terasa tebal, hanya sesekali terputus oleh suara langkah pelan yang mendekat.Sebastian berhenti di depan pintu kamar.Tangannya terangkat, lalu mendorong pintu itu perlahan tanpa suara.Di dalam, lampu tidur menyala samar.Amara masih terbaring di atas ranjang, tubuhnya tampak jauh lebih tenang dibanding beberapa jam lalu. Napasnya sudah teratur, tidak lagi tersendat seperti sebelumnya. Wajahnya memang masih pucat, tetapi tidak lagi seputih kertas.Sebastian melangkah masuk.Pandangannya tertuju penuh pada wanita itu, mengamati setiap detail kecil—naik turunnya dada, posisi tangannya, bahkan hela napas yang nyaris tak terdengar.Ia berhenti di samping ranjang.Untuk beberapa saat, ia tidak melakukan apa-apa. Hanya berdiri di sana, memastikan dengan matanya sendiri bahwa kondisi Amara benar-benar membaik.Setidaknya … dia
Read more