Noah tidak langsung menjawab.Matanya menelusuri wajah Amara. Lalu sekilas ke arah Lily yang masih berdiri di sisi ibunya.Ia seperti sedang menimbang sesuatu.“Seperti yang kamu dengar,” katanya akhirnya, hati-hati.Amara mengerutkan kening. “Aku tidak dengar jelas.” Ia melangkah sedikit lebih dekat. “Tapi aku dengar Ibu bilang ‘lima tahun lalu’.”Kalimat itu membuat udara kembali menegang.Amara selalu sensitif dengan waktu itu.Lima tahun lalu, saat semuanya runtuh.Saat ia pergi. Saat Noah mengusirnya.“Ada apa dengan lima tahun lalu?” tanyanya pelan, tapi jelas penuh tuntutan.Noah diam sejenak. Dalam hatinya, ia menelan ludah lega. Berarti mereka tidak mendengar semuanya.Ia memaksakan wajah tetap tenang. “Lily,” katanya lembut, menoleh ke arah putrinya. “Naik dulu ke kamar, ya. Ayah dan Ibu mau bicara.”Lily menatap keduanya bergantian.Suasana itu aneh, tapi ia mengangguk kecil. Langkahnya pelan naik ke atas.Setelah pintu kamar tertutup, barulah Noah mendekat pada Amara, meng
Read more