“Jadi sekarang ….” Rani kembali bersuara, sedikit ragu, “Kamu tinggal sama … tukang kebunmu itu? Bagaimana keadaan Lily?”Amara menoleh lagi, menarik napas pelan.“Lily baik-baik saja,” jawabnya lebih dulu, seolah itu yang paling penting.Rani mengangguk, tapi tatapannya belum lepas. “Terus kenapa kamu masih kelihatan terbebani?”Ia mendekat sedikit, kedua tangannya kembali menggenggam tangan Amara.“Amara, kalau kamu butuh apa pun—termasuk uang—bilang saja. Sampai kamu bisa akses tabunganmu lagi, aku yang bantu. Atau ….” Ia ragu sejenak, “Kamu tinggal di rumahku saja?”Amara menggeleng perlahan.“Aku memang butuh bantuanmu buat urus semuanya,” katanya jujur. “Aku nggak bisa lama-lama di sini, Ran. Noah itu … gila.”Ia berhenti sebentar, lalu melanjutkan dengan lebih pelan, “Tapi kalau aku pindah ke rumahmu, justru lebih berbahaya. Dia pasti cari ke sana dulu.”Rani terdiam, mencerna itu.“Kalau begitu,” katanya akhirnya, “Jangan keluar dari sana dulu. Kalau tempat itu lebih aman, kam
Read more