Kalimat itu terdengar begitu normal hingga terasa tidak masuk akal. Sesuatu di dalam diri Amara akhirnya pecah.“Apa yang kau lakukan, Noah?!” suaranya meninggi.Namun Noah tetap tenang.Ketika Amara berjalan cepat ke arahnya, kemarahan yang sudah lama ia tahan akhirnya meledak. Tangannya terangkat, berniat memukul wajah pria itu.Tetapi Noah jauh lebih cepat.Ia menangkap pergelangan tangan Amara sebelum pukulan itu sempat mengenai dirinya. Dalam satu gerakan yang kuat, ia menarik Amara lebih dekat, memutar tubuhnya, lalu mengunci kedua tangan wanita itu di belakang punggungnya.“Lepaskan aku!” Amara meronta, tetapi Noah menahannya dengan mudah.Ia menundukkan kepalanya sedikit. Wajahnya sangat dekat dengan pipi Amara sekarang. Napasnya menyentuh kulitnya, hangat dan stabil, seolah tidak ada apa pun yang membuatnya gugup.Seolah ia hampir mencium Amara. Namun yang keluar hanyalah bisikan pelan. “Mulai sekarang,” katanya lembut, “Aku yang memegang kendali.”Cengkeramannya sedikit meng
Read more