Aku memegang bahunya, "sudah, tidak usah pikirkan. Yang penting kita selesaikan dulu prosesi pemakaman yang layak untuk nenekmu."Nara mengangguk dengan wajah yang lesu. Bahunya mulai bergetar saat air mata mengalir membasahi pipinya.Aku tidak bisa menahan lagi rasa simpati yang muncul begitu saja. Aku segera menariknya ke dalam pelukan."Sudah, sudah. Jangan menangis lagi.""Bayu, Nara sebatang kara sekarang.""Tidak apa-apa, kamu ada aku, ada Eyang dan juga ..." aku melirik Julia yang hanya melirikku sesekali. "Ada Kak Julia, dia pasti bisa menjadi kakakmu juga."Nara mengangguk dalam pelukanku. Kedua tangannya memegang pinggangku dan isak tangisnya mulai terdengar.Menyadari tatapan Julia yang mulai terlihat tidak nyaman, aku segera melepaskan pelukanku."Kemarilah, duduk dulu dan tenangkan dirimu."Selama menunggu, Nara duduk diam di kursi ruang tunggu.Nara duduk dengan patuh di kursi tunggu.Kedua tangannya saling menggenggam begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.Aku me
Read more