LOGINLondon belum sepenuhnya bangun saat Darwin sudah berada di dalam sebuah ruangan kecil yang dipenuhi layar monitor. Ruangan yang terletak di salah satu properti milik keluarga Serphent ini difungsikan sebagai pusat pengawasan dan koordinasi keamanan. Lampu utama sengaja dimatikan, menyisakan pancaran cahaya kebiruan dari deretan monitor yang menerangi wajah Darwin yang terlihat dingin dan serius.Di hadapannya, rekaman dari beberapa kamera pengawas terpampang sekaligus dalam beberapa sudut layar. Jalan layang, persimpangan utama, pintu keluar kawasan industri—semuanya berada dalam radius beberapa kilometer dari lokasi kecelakaan Elion. Darwin bersandar di kursinya sambil mengetuk meja pelan."Putar ulang. Mundurkan rekamannya beberapa menit."Operator di sampingnya sigap menekan tombol, rekaman kembali berjalan. SUV hitam milik Elion muncul dari kejauhan. Penanda waktu di sudut layar menunjukkan beberapa menit sebelum benturan terjadi. Darwin memperhatikan kendaraan tersebut tanpa berk
Hari berikutnya datang tanpa perubahan berarti, London masih diselimuti langit kelabu. Sisa hujan malam sebelumnya meninggalkan titik-titik air di kaca jendela townhouse, sementara udara dingin masuk melalui celah-celah balkon yang belum tertutup sempurna. Townhouse yang selama dua hari terakhir dipenuhi manusia kini terasa jauh lebih lengang. Bunga-bunga duka masih memenuhi beberapa sudut ruangan, namun suara percakapan yang sebelumnya bersahut-sahutan sudah menghilang, menyisakan keluarga dekat, beberapa pelayan dan keheningan yang terasa jauh lebih berat daripada keramaian. Di lantai atas, Christopher baru saja menyelesaikan pemeriksaan Rebecca. Wanita itu terlihat berbaring di tempat tidur dengan wajah pucat. Setelah dibujuk cukup lama, ia akhirnya menghabiskan beberapa suap bubur dan meminum obat yang diberikan Christopher. Tidak banyak, tetapi setidaknya cukup untuk membuat tubuhnya bertahan. "Untuk sementara kondisinya masih stabil," ujar Christopher ketika berdiri di amban
Pagi berikutnya menyongsong dengan sisa-sisa embun dingin yang melekat di kaca jendela. Pintu kamar utama terdorong pelan. Henry memasuki membawa nampan berisi segelas susu hangat dan bubur gandum. Di atas ranjang, Rebecca sudah terbangun, duduk membisu menatap lantai dengan tatapan hampa. Henry meletakkan nampan itu di atas meja nakas, lalu duduk di tepi tempat tidur. Dengan lembut, pria itu merengkuh jemari dingin putrinya. "Makan sedikit ya, Nak? Demi ibu, demi Jourell..." bisik Henry lembut. Rebecca mendongak, air mata yang mengering di pipinya kembali menetes tipis. "Ayah..." Suaranya serak dan parau. "Bagaimana kalau... bagaimana kalau aku ini benar-benar menantu yang gagal?" Henry tertegun, menatap putrinya dalam-dalam, seolah ingin memastikan ia masih sanggup bertahan. "Aku tidak bisa membuat Elion bertahan," bisik Rebecca, napasnya bergetar menahan sesak yang kembali menghantam. "Aku takut Ayah Arthur dan Ibu Beatrice membenciku. Aku takut mereka menganggapku penyebab El
Malam menyelimuti townhouse dengan kesunyian yang mencekik. Di kamar utama, lampu meja dinyalakan redup, memancarkan pendar kuning yang samar. Di atas tempat tidur berukuran king-size, Rebecca duduk bersandar pada tumpukan bantal. Wajahnya pucat pasi, matanya sembap dan hampa, menatap lurus ke arah pintu kamar yang sedikit terbuka. Di atas meja nakas, mangkuk sup bening yang dibawakan pelayan satu jam lalu sudah dingin tanpa tersentuh sedikit pun, Rebecca bahkan menolak memasukkan satu sendok pun makanan ke dalam mulutnya. Setiap kali aroma masakan tercium, perutnya mual—seolah-olah seluruh tubuhnya ikut menolak kenyataan bahwa Elion telah tertimbun tanah. Setiap mendengar langkah kaki di koridor luar, mata Rebecca akan berbinar singkat. Jantungnya berdegup kencang, mengharapkan keajaiban yang dapat membalikkan kenyataan pahit yang telah dijelaskan Christopher tadi siang. Bagaimana jika itu Elion? Bagaimana jika dia hanya terlambat pulang? Tetapi yang muncul di ambang pintu
Bab 82Pintu utama townhouse kembali terdorong lebar. Christopher masuk dengan langkah cepat dan cekatan membawa tas medis. Bahkan jas dokternya masih terkancing rapat, pria itu baru saja menerima panggilan dari Roberto beberapa menit lalu dan langsung meninggalkan rumah sakit."Di mana Nyonya Rebecca?" tanya Christopher sigap."Di sini," sahut Margareth seraya memberi ruang. Christopher segera berlutut di samping sofa. Dengan cermat, ia memeriksa respons pupil, denyut nadi, serta irama pernapasan Rebecca.Tak lama, ia meminta salah seorang pelayan mengambil tensimetermedis. "Tekanan darahnya drop cukup drastis, namun masih dalam ambang batas aman untuk kita pantau di rumah," ujar Christopher usai melakukan pemeriksaan singkat. "Ia mengalami kelelahan fisik dan mental yang amat berat."Roberto berdiri tegap di samping sofa, menyilangkan tangannya di dada. "Ia pingsan tepat setelah mawar pertama dijatuhkan ke peti Elion." Christopher terdiam sejenak, matanya menatap wajah pucat Rebecc
Waktu terus berputar tanpa ampun. Tepat pukul sebelas siang, sirine dan rombongan pengawal pemakaman mulai bersiap di halaman depan. Waktunya telah tiba untuk mengantarkan Elion Hale ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Guncangan emosi di rumah duka mendadak memuncak ketika peti mulai diusung keluar.Richard yang sejak tadi menempel pada Roberto tiba-tiba mulai rewel. Saat Roberto mencoba menyerahkan bocah itu kepada Emma agar ia bisa memimpin barisan pengusung peti dan mengondisikan iring-iringan, Richard memekik histeris. Jemari mungilnya mencengkeram erat jas Roberto."Tidak mau! Mau sama Daddy! Jangan pergi, Daddy!" jerit Richard, tangisnya memenuhi teras.Bocah itu belum paham apa yang terjadi, tetapi instingnya merasakan kepanikan yang luar biasa dari orang-orang di sekitarnya. Roberto mengatupkan rahangnya rapat-rapat, terjepit di antara kewajibannya memimpin prosesi dan keharusan menenangkan putranya.Margareth Serphent dengan anggun melangkah maju."Biar ibu yang mendam
Lantai marmer Mansion Serphent memantulkan cahaya lampu kristal yang menyilaukan, tetapi atmosfer di dalamnya sedingin es. Margareth Serphent berdiri di tengah aula, jemarinya yang dihiasi berlian menggeser kartu undangan yang baru saja selesai dicetak dengan hiasan lambang dua klan besar: Serphent
Arthur Hale berdiri di depan dinding layar, sorot matanya dingin. Deretan data mengalir cepat: rekaman lalu lintas komunikasi, pergerakan keamanan pribadi, serta jalur distribusi logistik yang seharusnya sudah lama tidak aktif. Salah satunya menyala kembali."Konfirmasi terakhir?" tanyanya singkat
Luka bekas operasi itu hampir mengering, tapi rasa nyeri di bagian dalam tak bisa Rebecca tahan hingga membuatnya selalu menangis dalam diam, membiarkan rasa nyeri itu menggerogoti dirinya.Tapi yang jauh lebih menyakitkan lagi adalah rasa sesak di dadanya. Air susu yang terus berproduksi namun tid
Keheningan yang tercipta setelah jawaban Richard seolah membekukan oksigen di ruang tamu utama. Margareth Serphent menyipitkan mata, tatapannya yang tajam bak belati kini hanya fokus tertuju pada wajah polos sang cucu. Ia bukanlah tipe wanita yang dengan mudahnya percaya pada dongeng, apalagi jika







