تسجيل الدخولDerap langkah kaki memenuhi koridor dalam hitungan detik saat dua dokter dan beberapa perawat segera menerobos masuk ke dalam kamar rawat. Suara perintah seketika bersahutan di udara—minta meja disingkirkan, brankar disiapkan, hingga instruksi cepat untuk memeriksa tekanan darah. Rebecca terpaksa mundur ke belakang ketika para tenaga medis mengambil alih tubuh Roberto. Tetapi, sebelum mereka sempat membawa pria itu pergi, jemari Rebecca masih menggenggam erat lengan mantel Roberto, seolah tanpa sadar hatinya menolak untuk melepaskan. "Maaf, Nyonya. Kami harus membawanya ke ruang observasi." Teguran itu baru membuat Rebecca tersadar. Perlahan, genggaman tangannya terlepas dari kain mantel tersebut. Tubuh besar Roberto kemudian dipindahkan ke atas brankar dengan sigap, kemudian didorong keluar kamar dengan cepat. "Daddy!" Tangisan Richard pecah saat itu juga. Bocah laki-laki itu nekat berusaha turun dari ranjang rumah sakit meski kondisi tubuhnya sendiri masih sangat lemah. "Daddy! D
"Kakak... tahu semuanya...?" suara Rachel bergetar hebat. Roberto menyandarkan tubuhnya pada tepian meja makan. "Rachel," untuk pertama kalinya sejak datang, nada suaranya terdengar sedikit lembut. "Kau terlalu meremehkanku." Kalimat itu membuat Rachel tertunduk malu. Tentu saja. Ini Roberto Serphent. Pria yang bahkan bisa menemukan persembunyian Eliza hanya dalam hitungan hari dan mampu membaca pergerakan Adam Ravenscroft lebih dulu. Bagaimana mungkin orang seperti itu tidak menyadari intrik kecil yang terjadi di dalam rumahnya sendiri?"Lalu kenapa..." suara Rachel pecah sepenuhnya. "Kenapa kakak tidak pernah menghukum kami?"Roberto kembali terdiam, mengalihkan tatapannya keluar jendela besar apartemen, menatap langit London yang mulai berubah jingga. Cukup lama ia membisu, hingga akhirnya sebaris kalimat keluar tenang dari bibirnya. "Karena kau adikku."Air mata Rachel akhirnya lolos dan membasahi pipinya. "Sekarang aku benar-benar mengerti," suara Rachel terdengar rapuh. "Aku
Cahaya matahari sore menerobos masuk melalui jendela besar apartemen penthouse milik Erdogan dan Rachel, memantul di atas lantai marmer yang mengilap bersih. Di luar sana, kota London masih bergerak sibuk seperti biasa. Mobil-mobil berlalu lalang, orang-orang berjalan terburu-buru, dan dunia sama sekali tidak peduli bahwa dua dinasti besar saat ini sedang saling mencabik reputasi satu sama lain. Tetapi, suasana di dalam apartemen mewah ini justru terasa jauh dari kata tenang. Rachel duduk bersandar di sofa ruang keluarga dengan sebuah tablet digital di pangkuannya. Wajah wanita yang tengah mengandung itu tampak semakin pucat ketika matanya membaca halaman demi halaman berita yang kini memenuhi seluruh media utama Inggris. Foto Eliza dan Frederick yang terlihat hina terpampang di mana-mana, dikuliti oleh tajuk utama yang kejam, analisis politik, spekulasi perselingkuhan, hingga komentar liar publik yang bercampur menjadi satu. Rachel menelan ludahnya dengan susah payah. "Dia benar
Aroma kopi hitam dan roti panggang yang baru matang memenuhi ruang makan, tapi keheningan di town house itu terasa begitu nyata. Elion duduk sendirian di meja makan, menatap kursi kosong di depannya. Di atas meja, sebuah piring kecil dengan roti panggang yang sudah dingin dan segelas susu yang belum tersentuh menandakan bahwa si pemilik baru saja pergi terburu-buru. Rebecca sudah berangkat ke rumah sakit sejak subuh tadi demi menjaga Richard. Elion menghela napas pelan. Baru saja ia hendak menyesap kopinya, ponselnya yang berada di atas meja bergetar hebat. Notifikasi berita breaking news meluncur bertubi-tubi, diikuti oleh pesan masuk dari Willy. Namun, sebelum Elion sempat meraih ponselnya, perhatian pria itu tertarik oleh suara kekehan kecil dan gumaman lembut dari arah ruang tengah. Di sana, Mary sedang menimang sebuah bedungan bayi berwarna biru muda di dekat jendela yang terpapar hangatnya sinar matahari pagi. Jourell, bayi mungil yang kini sudah menginjak usia
Darwin melangkah cepat menyamakan ritme langkah Roberto yang lebar dan penuh amarah yang tertahan. Ia menyerahkan tablet digital yang menampilkan titik koordinat radar terupdate. "Helikopter itu mendarat di sebuah properti pribadi tersembunyi di wilayah pesisir Cornwall, Tuan. Sesuai dugaan Anda, Adam Ravenscroft sudah menyiapkan segalanya di sana. Tempat itu dijaga ketat, dan kami menduga mereka akan menyembunyikan Eliza dan Frederick di sana sampai situasi pengadilan mendingin," Roberto menghentikan langkahnya tepat di depan lift khusus. Dia tidak melihat ke arah tablet, melainkan menatap lurus pada pantulan dirinya di pintu lift logam yang mengkilap. Sepasang matanya menyipit, memancarkan kebengisan murni seorang Serphent. "Adam sengaja melarikan mereka agar publik tidak melihat skandal perselingkuhan murahan," suara Roberto rendah namun sanggup membuat bulu kuduk Darwin meremang. "Pria tua licik itu ingin menyusun narasi melodrama romantis. Dia ingin Eliza keluar sebagai w
Cklek. Suara pintu membuat Margareth dan Rebecca kompak menoleh. Begitu pandangan mereka bertemu, Margareth langsung mematung. Rasa malu yang besar menyergap dirinya. Ia tertangkap basah oleh putranya sendiri dalam kondisi yang paling hina dan menyedihkan. Tapi, naluri keibuan Margareth yang selama ini tertutup oleh ambisi, mendadak keluar murni ketika ia menatap wajah Roberto secara detail. Dari jarak dekat begini, Margareth bisa melihat dengan jelas lingkaran hitam yang pekat di bawah mata putranya. Wajah pria itu sangat kuyu, letih, dan menyimpan beban yang sangat berat. Putranya yang dulu selalu gagah dan tak tersentuh, sekarang nampak seperti pria yang sedang sekarat karena menanggung kekacauan yang diciptakan oleh ibunya sendiri. "Roberto..." suara Margareth bergetar menahan rasa bersalah yang semakin mencekik lehernya. Roberto tidak menjawab. Suara ketukan sepatu pantofelnya terdengar berbobot ketika pria itu melangkah lebih jauh ke dalam kamar rawat dengan pembawaan ya
Senja mulai turun di langit London saat lift pribadi Hale Group berhenti di lantai paling atas. Pintu lift terbuka pelan, Elion melangkah keluar dengan wajah kusut dan langkah berat yang tak biasa. Para staf yang masih bekerja refleks menundukkan kepala saat pria itu melintas, tapi Elion hanya me
Di waktu yang sama, sinar matahari pagi mulai mengusir embun di jendela apartemen kelas menengah di pinggiran kota London. Berbeda jauh dengan atmosfer berdarah dan penuh amarah di mansion Serphent, suasana di dalam unit apartemen ini terasa begitu tenang, bahkan cenderung damai. Aroma roti pangg
Fajar baru menyingsing di langit London, membawa cahaya biru keabu-abuan yang dingin masuk melalui jendela kaca mansion utama Serphent. Jam menunjukkan pukul 04.45 pagi. Keheningan eksekusi berdarah Vincent Moreau di gudang bawah tanah tadi masih menggantung pekat, seolah bau besi dan mesiu ikut te
Cahaya matahari pagi yang pucat menerobos masuk melalui celah gorden abu-abu di apartemen Frederick, menciptakan garis-garis cahaya redup di atas lantai kayu yang dingin. Eliza terbangun dengan rasa sakit yang berdenyut hebat di pelipisnya. Namun rasa sakit itu tidak seberapa dibanding dingin yan







