Ketika vonis waktu kematian pukul dua puluh dua empat puluh tujuh diucapkan, lorong rumah sakit meluruh dalam keputusasaan yang melumpuhkan. Tetapi, di tengah atmosfer duka yang membekukan itu, Roberto dipaksa menjadi satu-satunya orang yang memegang kendali.Pria itu menarik napas panjang, mengunci seluruh emosinya rapat-rapat di balik topeng ketenangan yang dingin. Ia melangkah keluar ruangan, menghampiri Darwin dan Willy yang berdiri kaku di depan koridor."Darwin, Willy," panggil Roberto, suaranya rendah dan penuh penekanan. Kedua pria itu tersentak, menegakkan punggung mereka. "Ya, Tuan,""Kalian berdua ambil alih seluruh prosedur medis dan pengurusan jenazah Elion Hale di rumah sakit ini," perintah Roberto dengan mata yang tajam. "Urus berkas kargo, sertifikat kematian, hingga koordinasi dengan pihak ambulans untuk pemindahan ke rumah duka. Dampingi Tuan Arthur dan Tuan Henry untuk penandatanganan dokumen.""Siap, Tuan Roberto." jawab Darwin. Roberto lalu memutar tubuhnya menata
Read more