Rhea sudah berada di kediaman orang tuanya. Namun, Rhea tenggelam dalam lamunan yang dalam.Dia duduk di sofa lama yang busanya sudah mulai menipis, menatap kosong pada cangkir teh yang sudah mendingin di depannya.Arina, sang ibu, memperhatikan putrinya sejak tadi. Kerutan di kening Arina semakin dalam saat menyadari Rhea bahkan tidak menyentuh camilan kesukaannya.“Rhea?” panggil Arina lembut.Rhea tersentak, bahkan bahunya sedikit melonjak. “Eh, iya, Ma?”“Kamu melamun jauh sekali. Ada apa? Apa kamu tidak betah bekerja di tempat barumu? Kalau memang lingkungannya tidak sehat, jangan dipaksakan,” tanya Arina dengan nada khawatir yang tulus.Rhea menggeleng pelan, sementara tangannya memainkan pinggiran cangkir. Dia menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan kekuatan untuk mengucapkan satu nama yang selama sepuluh tahun ini menjadi tabu di rumah ini.“Bos di kantorku itu ... dia Justin, Ma,” bisik Rhea lirih.Arina terdiam seketika. Gerakan tangannya yang hendak merapikan taplak mej
Read More