Matahari mulai tergelincir di ufuk barat, membiarkan semburat jingga menembus kaca-kaca tinggi lantai dua puluh enam.Di meja kerjanya, Rhea sudah merapikan beberapa dokumen dan bersiap mematikan komputernya.Jarum jam menunjukkan pukul lima sore tepat. Dia butuh segera pulang, menata tumpukan tas belanja yang mengganggu pemandangan di apartemennya, dan mungkin tidur lebih awal.Namun, suara interkom di meja kerjanya berbunyi dengan nada yang sangat ia kenal.“Rhea, masuk ke ruanganku sekarang.” Suara Justin terdengar datar, bahkan tanpa embel-embel 'tolong'.Rhea menghela napas panjang, lalu melepaskan tas yang baru saja dia sampirkan di bahu. Dengan langkah berat, dia masuk ke dalam ruang kerja pria itu.Justin duduk di balik mejanya, dengan jemarinya sibuk menari di atas keyboard laptop, sementara tumpukan map tebal sudah menunggu di sisi meja.“Ya, Pak Justin? Ada yang bisa saya bantu sebelum saya pulang?” tanya Rhea, sambil memberikan penekanan pada kata 'pulang'.Justin mengangk
Read More