Jarum jam dinding di ruang kerja pribadi itu berdetak pelan, menunjukkan pukul sepuluh malam. Keheningan di ruangan itu begitu pekat, hanya diinterupsi oleh deru halus pendingin ruangan.Justin perlahan membuka matanya. Kepalanya masih terasa berat, namun rasa panas yang membakar tubuhnya sejak sore tadi mulai menyurut.Dia mengerang pelan, mencoba mengumpulkan kesadarannya. Saat hendak menggerakkan tangan kanannya, dia merasakan sesuatu yang hangat dan lembut mendekap jemarinya. Justin menoleh ke samping sofa.Di sana, terduduk di atas lantai yang dingin dengan kepala bersandar pada tepian sofa, Rhea tertidur lelap.Napasnya teratur, namun wajahnya tampak sangat lelah. Justin terdiam, matanya terpaku pada tautan tangan mereka.Memori tentang apa yang terjadi sejak sore tadi, bagaimana Rhea menangkapnya, mengompres dahinya, dan bagaimana dia memohon agar wanita itu tidak pergi, mulai berputar kembali di kepalanya seperti film lama yang rusak.Justin menggerutu pelan dalam hati. “Sial,
Read More