“Kamu tidak akan mendapatkan reaksi yang kamu mau,” gumam Rhea dengan pelan.Dia kemudian melempar ponsel itu ke dalam laci meja dan menguncinya. Rhea tahu, jika dia panik atau mencari tahu siapa pengirimnya sekarang, dia akan hancur di tengah jam kantor. Ia harus tetap terlihat sebagai asisten yang tak tergoyahkan.“Pagi, Rhea. Kamu terlihat ... pucat sekali hari ini. Kurang tidur?” Suara itu datang dari arah samping. Sintia berdiri di sana, sembari menyandarkan pinggulnya di meja rekan kerja Rhea yang sedang kosong, sementara tangannya memainkan ujung rambutnya dengan senyum yang sangat lebar, terlalu lebar untuk sekadar sapaan pagi.Rhea mendongak dan menatap Sintia tanpa ekspresi. “Hanya banyak pekerjaan, Sintia. Ada yang bisa saya bantu?” tanyanya kemudian. “Oh, tidak ada. Aku hanya heran, asisten sesibuk kamu masih sempat menerima tamu tengah malam,” Sintia tertawa kecil, sambil menutupi mulutnya dengan jemari yang terawat rapi. “Hati-hati, Rhea. Dinding apartemen lama itu bi
Read More